Langsung ke konten utama

Pos

Kenanganku dan Tentangnya

Lima belas tahun aku menyimpan rahasia ini. Bahwa aku mengalami masa kecil yang buruk. Kemurungan demi kemurungan pada semua hari yang kulalui. Aku tidak dapat menceritakannya ke siapapun.
Ya, aku mengalami pelecehan s*ksual semasa kecil. Oleh tetangga, dan teman-temanku sendiri. Orangtuaku yang masih menganggap s*ksual sebagai hal yang tabu dan tidak pantas untuk dibicarakan. Dan aku selalu mengurungkan niatku untuk menceritakan hal ini kepada mereka.
Aku lebih memilih untuk menutup rapat-rapat semua kenangan buruk itu. Meski sering dada ini terasa penuh dan air mata pasti tak dapat terbendung jika mengingatnya. Aku tau, hal ini berefek pada pola pertemananku. Aku takut dengan anak laki-laki, dan aku lebih memilih untuk menghindari mereka. Terlebih saat ada yang terlihat mulai mendekatiku, aku takut, kenangan itu pasti muncul.

Dimas namanya, teman kuliahku. Ia cukup tenar di antara teman-temanku. Kata mereka ia cukup tampan, dan banyak pula temanku yang mengidolakannya. T…
Pos terbaru

Jangan Bilang Lo Jatuh Cinta?

“pokoknya lo harus jadi cewek gue. Gue gak bakal tahan dengan semua cewek-cewek yang ngeganggu gue selama di sekolah nanti. Kau lo jadi cewek gue apapun mau lo bakal gue turutin deh, janji.”

Selama hampir tiga tahun aku tidak berpacaran hanya fokus untuk belajar dan sekolah. Beberapa orang memang mencoba untuk mendekatiku tapi, aku sepenuhnya menutup hatiku sejak terakhir kali dikhianati oleh mantan pacarku dan sekarang setahun lalu Andrew teman masa kecilku kembali dan bersekolah di tempat yang sama denganku. Dia langsung menjadi populer dan digoda oleh banyak cewek di sekolahku membuatnya risih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan saat ini kami membuat janji untuk menjauhkan dia dari hal-hal seperti itu jadi dia bisa fokus pada pelajarannya dan meluluskan sekolahnya tahun ini tanpa menambah tahun dan umur lagi. aku pikir aku harus menerimanya karena hanya dengan cara ini aku dapat memenuhi permintaan kedua orangtua Drew agar membantunya untuk lulus tahun ini.

“o…

Coba Lihat Langit Biru di Atas Sana

“Coba lihat langit biru di atas sana.”
Kata-kata itu selalu terngiang di otakku, berputar-putar dan diulang-ulang berkali-kali. Kata-kata sederhana tetapi begitu istimewa untukku.

“Setiap kali kamu sedih, coba lihat langit biru di atas sana. Mereka akan membuatku nyaman dan membuatmu melupakan kesedihanmu,” ujarnya setiap kali aku meneleponnya sambil menangis.
“Kalau kamu bahagia, coba lihat langit biru di atas sana. Berbagilah kebahagiaanmu kepada alam juga. Barangkali alam juga akan memberikan kebahagiaan yang sama untukmu,” ujarnya ketika kami bertemu disaat aku sangat bahagia.

“Kalau aku sedang pergi jauh, coba lihat langit biru di atas sana. Tataplah awan putih di atas sana dan bayangkan wajahku,” ujarnya mengingatkanku ketika aku mengantarkannya ke bandara untuk melepasnya menerbangkan pesawat.
“Intinya, apapun yang kamu rasakan coba lihat langit biru di atas sana, semoga langit biru akan membantumu untuk memperbaiki ataupun menambah kebahagiaanmu,” ujarnya sebelum…

Takdir Cinta Indah

Suasana kampung begitu tenang ketika mentari telah berlabuh di peraduannya. Angin malam selalu membawa kerinduan masa lalu serta cahaya purnama yang selalu tampak gagah di antara bintang-bintang. Aku selalu ingin suasana yang seperti ini sepanjang hidupku. Namun aku tak mungkin akan selalu di sini. Itu sama saja mengembalikanku dalam harapan yang tak pernah terwujud hingga hari ini. Dan harapan itu telah tergantikan olehnya yang kurasa lebih baik.

“Kau sudah kembali?”
Suara itu mengagetkanku saat menginjak anak tangga paling terakhir. suara yang masih tetap sama empat tahun silam. Dia duduk di sebuah kursi rotan menghadap ke timur sambil menatap cahaya rembulan, mengenakan jilbab warna putih, jaket tebal warna pink. Wajahnya. Wajahnya mengalami perubahan besar seperti memendam sesuatu, menunggu waktu yang entah sampai kapan untuk mengungkapkannya. Aku berhenti sejenak, berdiri beberapa meter darinya sekedar untuk menjawabnya.

“Iya. Tapi hanya beberapa hari saja. Kau untuk …

Sampai Akhir Menutup Mata

“Ben, kamu udah bersyukur belum hari ini?”, pertanyaan yang sering dilontarkan kawanku Andi setiap harinya yang membuatku tersadar betapa pentingnya bersyukur atas kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Alasan Andi bertanya seperti itu kepadaku tak lain ia hanya ingin membuatku ingat akan perjuangan para pahlawan yang rela mati demi mengibarkan bendera merah putih yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sikap ramahnya membuatku semakin beruntung memiliki sahabat seperti Andi, mungkin tak banyak orang yang seperti Andi di dunia ini.

“Andi, kamu gak latihan hari ini?”, tanyaku kepada Andi yang sedang memainkan game di ponselnya. “Kayaknya hari ini aku gak bisa latihan, soalnya badanku kurang fit, Ben”, jawab Andi sambil menoleh ke arahku. Tidak biasanya Andi seperti itu, mungkin ia terlalu lelah karena kemarin telah berlatih renang dengan keras. Aku pun terpaksa harus berlatih renang tanpa Andi hari ini.

Aku dan Andi adalah atlet renang nasional yang tahun lalu ik…

Senyumanmu Adalah Kebahagiaanku

Di sebuah kota tepatnya di Surabaya, tinggallah seorang gadis kecil berusia 14 tahun yang bernama Erwina Larissa Fatimah, dia lebih sering disapa Ima. Gadis kecil bernama Ima sekarang telah menduduki bangku kelas 3 SMP. Dia pun telah berhasil menempuh Ujian Nasional, kini tinggal menunggu hasilnya saja. Sejak lama dia sudah mempunyai impian untuk bisa masuk di salah satu SMAN komplek terfavorit di kota Surabaya. Suatu hari dia berbincang-bincang dengan kedua orangtuanya untuk merundingkan dimana dia akan melanjutkan pendidikannya.

“Bu, Pak” kata Ima membuka pembicaraan pada orangtuanya yang sedang berkumpul di ruang tamu
“Iya Nak?” jawab kedua orangtua yang hampir bersamaan
“Bagaimana kalau nanti Ima mencoba untuk ikut tes RSBI dulu? Nanti kalau tidak lulus baru ikut yang reguler” kata Ima sambil menatap muka kedua orangtuanya secara bergantian. Terlihat guratan di wajah kedua orangtuanya, yang menandakan mereka terlihat bingung mendengar ucapan anaknya.
“Kalau ibu sih ters…

Saat Terakhir

Duar. Kilat menyambar. Dahyat. Memekakkan telinga. Langit malam meruntuhkan air. Ya! Buncahan hujan deras menghantam bumi. Teramat sangat malah. Membuat jalanan banjir. Angin malam berkesiur kencang. Dingin membeku. Awan hitam mendominasi. Kelam. Gemintang indah tertutup. Terhalang. Gemerlap lampu-lampu musnah sudah. Ibu Kota ini memang benar-benar layaknya zaman batu. Gelap. Hanya sesekali cahaya kilat membuat terang. Sekejap.

Apa yang sebenarnya diinginkan takdir langit pada malam ini? Entahlah. Tak ada yang tahu. Apa pula yang sedang terjadi? Entahlah. Di kamar yang serba putih, Dimas meratap. Ya! Yang ia mampu perbuat sekarang hanyalah meratap. Diam seribu bahasa. Melihat Dewi terbaring lemah. Tak berdaya. Wajahnya pucat bagai seorang mayat. Tapi ia masih bernafas. Selang-selang menghujam tubuhnya yang semakin ringkih dan ringkih. Matanya sayu masih setengah membuka. Mencoba mengutarakan isi hati. Entahlah. Benar-benar tak karuan malam ini. Beribu-ribu kilat terus menyambar. Memba…