Cara Mudah Mendapatkan Uang Dengan Clixsense

Kamis, 21 Januari 2016

Pandangan Senja

“Cahaya senja menutup alur kita berdua..” Sepenggal lirik lagu yang hampir setiap hari menjadi penghantar tidurku ini ternyata mengundangku ke dalam keadaan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Keadaan yang membuatku menghindari apa yang seharusnya aku cari. Dan membenci apa yang harusnya aku cintai. Di sinilah aku belajar kapan seharusnya kita membohongi perasaan kita sendiri. Dan kapan seharusnya kita jujur dengan perasaan kita. Semua ku kira akan berjalan baik-baik saja. Namun apa daya, keadaan ini mengantarkan batinku kembali lagi jatuh ke dunia Cinta yang berusaha aku hindari.

Namaku Sekar. orangtuaku memberikan nama ini dengan harapan agar di suatu hari nanti, aku berhasil mengindahkan kehidupanku sendiri layaknya bunga–bunga yang mengindahkan taman dengan warna–warna indahnya. Sayang, baru saja ku mencicipi awal remajaku, aku sudah dituntut hidup hanya bersama Mama. Ya! Tanpa sosok Ayah. Aku adalah anak tunggal yang baru saja kehilangan Ayah sejak Ayahku terkena Kanker dan pergi meninggalkan aku dan Mamaku. Wajar saja jika setiap saat aku merasa kesepian. Ditambah lagi Mama yang bekerja di luar kota. Ya, ini membuatku merasa aku hanya sebatang kara di dunia ini. Usiaku belum genap 15 tahun. Dan aku baru saja duduk di bangku SMA. Aku memilih melanjutkan sekolah menengahku di Sekolah Ilmu Sosial. Di mana ternyata tempat ini menjadi perantara menuju masa remajaku yang sebenarnya. Dan dari sinilah kisahku berawal.

“Sekar! Mau sampai berapa kali lagi Mama teriak-teriak? Cepat bangun!” Ya, seperti biasa, setiap pagi Mama selalu menjerit-jerit di depan kamarku. Ini memang karena aku cukup sulit untuk bangun. Jam weker yang ku tempatkan tepat di samping bantalku saja gagal membangunkan tidurku. Apalagi Mama yang setiap hari di luar kamar merangkap menjadi speaker aktifku.

Pagi yang cerah di hari yang cerah untuk bersekolah. Ya walaupun perjalanan ke sekolah selalu ku tempuh dengan berjalan kaki, namun hal ini tidak sedikit pun mematahkan semangatku yang cerah ini. Untung saja hari ini hujan tidak turun seperti kemarin. Basahnya aspal dan banyaknya kubangan air menemani langkahku menuju sekolah. Ku fokuskan pikiranku ke pelajaran yang akan ku dapatkan nanti. Satu per satu ku ingat lagi materi-materi yang akan dites nanti. Dan sudah ku bayangkan pula bagaimana ekspresi guru matematika apabila aku tidak bisa menjawab soalnya. Itu hal yang lumrah, hanya saja yang ku sedikit tidak terima, kenapa aku harus berhadapan lagi dengan matematika? Sedangkan aku sengaja sekolah di Ilmu Sosial untuk menghindari pelajaran–pelajaran semacam itu.

Belum selesai ku merenungi angka–angka yang cukup menyesakkan batinku, tiba-tiba saja dari arah belakang pengendara motor melaju cepat melewatiku. Bukan hanya melewatiku, tetapi dia juga melewati kubangan air yang kebetulan berada tepat di sampingku. Pastinya air kumuh tersebut mengenaiku dan mengotori seragamku. Aku terkejut dan hanya bisa berteriak ke arah pengendara yang tidak mau bertanggung jawab tersebut. Bukan karena rambut atau sepatuku yang basah, tapi karena hari ini adalah hari Senin dimana aku mengenakan seragam yang seharusnya putih dan sekarang tidak mungkin bisa aku putihkan kembali semudah membalikkan telapak tangan.

“Bagaimana ini? apa mungkin aku nekat bolos aja ya? gak mungkin aku sekolah dalam keadaan kayak gini. Tapi kalau aku gak sekolah, aku gak bakal dapat nilai matematika nih..” Gumamku. Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan langkahku menuju sekolah. Aku tidak memikirkan lagi sanksi apa yang aku dapatkan karena seragam kotor ini. Yang aku pikirkan hanyalah nilai tes matematika nanti. Sebenci–bencinya aku dengan matematika, aku tidak pernah berniat untuk bolos dari pelajarannya. Ya, benar saja. Sanksi dan omelan dari guru aku dapatkan. Di samping terlambat masuk kelas, seragam yang kotor menjadi alasan hukumanku hari ini. “itu baju atau lap pel kar?” tanya Dela salah satu teman seperjuanganku. “udah, gak usah dibahas.” jawabku sinis.

Siang ini aku memilih pulang dengan Dela. Dan untunglah Dela mau mengorbankan jaketnya kepadaku untuk menutupi seragamku yang penuh dengan noda menjijikkan. Karena tidaklah mungkin aku berjalan kaki lagi dalam keadaan yang mengenaskan ini. Tak sengaja ku melirik motor yang ada di sebelah motor Dela di mana motor itu sepertinya tidak asing bagiku. Dan setelah ku ingat–ingat, ternyata motor itu adalah motor yang hampir menyerempetku tadi pagi.
“Del, kamu tahu siapa yang punya motor ini?” tanyaku.
“tahulah. Itu kan motor Kak Edwin.” jawab Dela.
“Hah? Siapa tuh?” tanyaku lagi.
“masa kamu gak tahu? Itu kan Kakak kelas paling keren di sini..” Jawab Dela.

Tak Lama, datanglah laki–laki yang disebut–sebut bernama Edwin yang langsung pergi dengan motornya itu. Iya, keren sih, tetapi sayang caranya dia untuk ngotorin baju orang tidak ada keren–kerennya. Mataku memandang tajam kepergian Kakak itu. Seakan aku benar–benar dendam dengannya.
“udahlah kar! Gak mungkin banget kamu bisa dapetin Kak Edwin..” Kata Dela tiba-tiba yang membuyarkan pandanganku.
“hah? Apa sih Del? Ngawur banget ngomongnya..” Balasku.
“alah, sekarang aja ngomong gitu. Ntar aja naksir..” Kata Dela meledekku.
“apaaaa? Kalau disuruh milih ya, mendingan aku mati ketabrak ojek deh dari pada naksir sama dia. Asal kamu tahu ya, gara–gara dia tuh seragam aku kotor gini. Gara gara dia juga aku kena hukuman..” Omelku kepada Dela.
Perkataanku ini ternyata membuat Dela mematikan mesin motor dan balik memandangku penuh rasa ingin tahu.

“jadi, Kak Edwin yang ngotorin bajumu ini?” tanya Dela serius.
“iya! Udah tampang sombong, jutek, gak mau tanggung jawab lagi..” Keluhku.
“udah cepat naik!” Sepertinya Dela kesal dengan keluhanku mengenai Kak Edwin. Tetapi itu memang kenyataan yang terjadi.
“Aku pulang.” teriakku sambil membuka pintu rumah. “Aduh mampus! Bajuku…” saat ku teringat dengan seragam yang tak mungkin ku perlihatkan di hadapan Mamaku, aku pun bergegas masuk kamar tanpa sepengetahuan Mama. Tapi, terlambat!
“Sekar!” Teriak Mama. Belum saja aku sempat membuka pintu kamar, Mama sudah memanggilku. Mau tidak mau aku harus mengadap Mama. Kepalaku menunduk dan perlahan ku menghampiri Mama. “habis ngapain kamu? Tawuran?” Perlahan kepalaku terangkat dan berbicara pelan.
“ee… eee.. tadi tadi keserempet..” Kataku terbata–bata.

Lengkap sudah hari ini. Terlambat ke sekolah, hukuman, omelan dari guru dan bukan itu saja. Dela sepertinya kesal denganku bahkan sampai rumah Mama ikutan marah–marah gara–gara seragamku yang kotor. Wah, ini semua gara–gara Kakak sombong itu. Semenjak kejadian inilah aku mulai memvonis Kak Edwin itu orang yang paling aku sebelin di sekolah itu. Tidak peduli berapa banyak temanku yang mengidolakannya dan tidak peduli jika hanya aku yang tidak menyukainya, yang pasti karenanya persahabatanku mulai berantakan.

Bel berdering sungguh cepat, menandakan pelajaran pertama akan dimulai. Namun keberuntungan jatuh ke kelasku. Jam pertama ini ternyata merupakan jam kosong. Kebetulan guru pengajarnya tidak dapat hadir. Itu artinya 3 jam kedepan aku bisa bebas dari guru killer matematika. Suasana kelas semakin lama semakin tidak karuan. Maka, aku memilih untuk ke luar dari kelas. Di depan kelas tampak Dela yang sedang duduk membaca buku novel kesukaannya. Aku pikir aku harus mendatanginya dan menanyakan hal kemarin. Untuk memastikan dia tidak marah denganku.

“Del, kamu marah sama aku?” tanyaku. Dela memandangku dan menutup novelnya.
“enggak, biasa aja.” jawabnya. Pandangan kami seketika saja teralih menuju lapangan basket yang berada tepat di depan kelas kami. Ku melirik Dela yang tampak tersimpul senyum saat ia tahu jika salah satu dari pemain basket itu adalah Kak Edwin. Bukan hanya Dela. Beberapa teman–teman perempuan kelasku yang lain ternyata juga menyaksikan Kak Edwin yang sedang bermain basket. Karena ku merasa mulai risih dengan keadaan ini aku pun bangun dan berniat untuk masuk kelas.
“mau ke mana?” tanya Dela.
“tiba–tiba aja kepalaku pusing, aku masuk dulu ya..” Jawabku. Belum saja aku masuk ke kelas tiba–tiba kepala bagian belakangku terkena sesuatu. Hantaman bola basket yang cukup keras itu membuatku kaget dan bersimpuh jatuh. Sambil memegang kepala aku pun berbalik badan. Ternyata pelakunya tidak lain adalah Edwin. Teman-temanku yang lain menghampiriku dan menanyakan keadaanku. Langsung saja aku meringis kesal saat aku tahu ternyata Edwin yang mengenaiku bola.
“sial, jadi pusing beneran kan.” gumamku.
“kamu gak apa–apa?” tanya Dela sambil menyentuh bahuku.
“enggak kenapa-kenapa kok..” Jawabku sambil menoleh ke atas. Betapa kagetnya aku ternyata Edwin sudah ada di depanku.

Semua teman–temanku kagum akan kedatangannya. Ya semua. Kecuali aku.
“maaf gak sengaja.” kata Edwin sambil mengambil bola basket yang berada di dekatku. Bukannya menolong atau sekedar menanyakan keadaan, ia malah mengambil bola dan pergi begitu saja. Dan ini membuatku bertambah kesal. Aku pun bangun dan benar–benar masuk ke dalam kelas.
“lihat kan Del, idolamu tuh!” Kesalku.
“kan dia gak sengaja kar..” Balas Dela. Tidak mau bertengkar dengan Dela aku pun mengalah dan memilih untuk menyimpan kesalku sendiri. Rugi juga jika aku mengeluh di hadapan teman–temanku. Termasuk Dela, yang benar-benar memuja sosok Edwin si Kakak kelas Sombong, sok keren, dan gak pernah mau bertanggung jawab itu.

Tak lama, jam kosong itu pun berakhir dengan singkat. Salah satu guru masuk ke kelasku. Seketika saja kegaduhan kelas terhenti. Kami kira guru itu akan mengajar atau marah–marah tidak jelas karena kegaduhan kami. Ternyata ia datang dengan tujuan memberikan pengumuman mengenai tour yang akan dilaksanakan minggu depan. Tour ini dilaksanakan oleh kelas 1 dan kelas 2 dengan rute yang sama. Segala hal telah diumumkan oleh guru itu hingga menghabiskan jam pelajaran. Bahagia rasanya mendapatkan pengumuman ini. Sakit kepala karena hantaman bola tadi sudah ku lupakan.
“wah, aku gak sabar nih buat tour. Pasti seru..” Kata Dela.
“iya, kapan lagi bisa kumpul bareng temen-temen ya kalau bukan pas itu.” jawabku.

Hari ini Dela berjanji akan menginap di rumahku. Hitung–hitung hari ini kami berencana membuat tugas yang sangat menumpuk dan belajar untuk ulangan besok. Ini pertama kalinya aku tidak merasakan kesepian di rumah ini. Sosok Dela menambahkan anggota penghuni rumah untuk sementara. “sering–sering aja nginep di sini Rin, biar aku ada temen..” Kataku memelas.
“ya enggak sering-sering banget kan Kar. Tapi kalau ada waktu pasti aku temenin kamu kok..” Ujar Dela dengan bijaknya. Kami pun bergadang untuk menyelesaikan tugas–tugas ini.
“ya ampun, ini kapan selesainya ya? Mana udah jam 2 lagi..” Keluh Dela.
“aku udah gak kuat nih. Mana kita belum belajar buat ulangan..” Kataku. Kami pun memilih untuk

melanjutkan tugas dan tanpa tersadar kami ketiduran di ruang tamu dengan keadaan buku yang berserakan.
Jam weker di kamarku berdering sangat kencang hingga membangunkan Dela yang tertidur di lantai. Dela mecoba membangunkanku dan tidaklah mungkin dia berhasil. Akhirnya dia bersiap-siap sendiri. Tidak lama, aku pun ikut terbangun dan terkejut dengan keadaanku pada saat itu. “astagaaaa!! belum belajarrr!!” teriakku.

“apa sih nak, pagi–pagi udah ribut sendiri. Sana cepetan mandi! Dela udah hampir selesai tuh..” Omel Mama.
“Duh mati kita Del. Kita belum belajar sama sekali..” Kataku sambil mengeluarkan buku ke atas meja.
“udah, pasrah aja dah. Mau gimana lagi.” kata Dela sambil membuka korden jendela kelas.
“Del, anter aku ke toilet yuk.” ujarku pada Dela sambil menarik tangannya menuju ke luar kelas. Belum sampai di toilet ternyata Edwin dan teman–temannya sedang berkumpul di teras dekat toilet.
“itu orang ngapain sih pakai acara nongkrong di sana, mana semua jalan ke toilet dihabisin lagi.” gumamku. Langkahku pun terhenti dan mencoba mencari toilet lainnya.
“Kar, katanya mau ke toilet?” tanya Dela bingung.
“Toilet gak cuma 1 kali Del.” kataku yang langsung berlari ke toilet lainnya.

Tapi sayang sekali, toilet yang satu ini cukup seram dan kata orang–orang toilet ini cukup angker. Ku hanya dapat menghela napas dan menelan ludah ketika berada di depannya. Tapi konyolnya aku, aku malah tetap memilih masuk ke toilet angker itu dibanding balik kembali ke toilet yang dijaga oleh Edwin dkan kawan-kawan. Karena sudah tidak ada pilihan lain lagi. Keberuntungan jatuh padaku saat itu. Ternyata toilet itu tak seseram yang aku bayangkan. Yang ku temui hanyalah gerombolan kecoa dan tikus–tikus saja.
“ngapain sih kamu ngerelain dirimu masuk ke toilet angker demi ngindarin Kak Edwin? Untung aja tadi gak terjadi apa–apa. Nah kalau misalnya tadi kamu ngelihat apa–apa gimana coba?” kata Dela marah.
“kamu masih aja bangga–banggain orang kayak gitu. Kamu tuh sadar dong, dia ngasi pengaruh gak baik buat fans-nya. Lagian aku heran deh, apa sih yang dilihat dari sosoknya yang sombong dan sok keren gitu..” Balasku.

“iya itu cuma menurutmu! Dan hanya kamu yang berpikiran negatif ke Kak Edwin..” Tuding Dela.
“itu karena aku yang ngalamin sendiri Del!” Balasku lagi.
“ya udah terserah kamu! Emang dasarnya aja kamu gak pernah bisa mikir positif ke orang lain.” sahut Dela dan pergi meninggalkanku.
“heh, iya emang dasarnya ya..” Siapa yang nyerempet orang lain terus main kabur gitu aja? Siapa yang buat sahabatnya sendiri sial? Siapa yang buat kepalaku pusing karena bola basket? Sekarang siapa yang jadi penyebab aku nekat masuk ke toilet angker itu? Dan siapa yang buat aku berantem sama Dela? Aku benci Edwin!

Sesuatu terberat yang aku alami kali ini adalah berantem sama Dela. Bayangkan saja, aku sekelas bahkan sebangku dengan Dela. Tapi kami malah cuek–cuekan. Dan tidak berbicara sedikt pun. Jujur ini sulit, namun apa daya. Dela pasti mulai membenciku. Aku juga heran, sebenarnya sihir apa yang digunakan oleh Edwin hingga orang tergila–gila dengannya. Ini termasuk sahabatku Dela. Pendapat kami yang kontraslah menjadi penyebab hancurnya hubungan kami saat ini. Entah apa yang akan terjadi, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Berhari–hari aku dan Dela saling diam tak berbicara sedikit pun. Tapi aku percaya suatu saat nanti akan ada suatu keadaan yang memaksa kami untuk kembali berbicara.

Upacara Penurunan bendera pada hari ini memang sangat mencekam. Panas mentari yang cukup terik membuat kami sebagai peserta tak dapat menahan diri untuk berteduh. Namun tidaklah mungkin hal itu kami lakukan. Saat itu, kelasku kebetulan berbaris paling pinggir. Ya bisa dibilang berbaris di area yang paling terkena sinar matahari. Wajar saja salah satu dari kami jatuh pingsan karena tidak kuat. Salah satu yang ku maksud adalah Dela. Teman–teman panik dengan kejadian ini, itu termasuk aku. Kalau boleh dibilang, aku adalah orang terpanik ketika Dela pingsan. Karena seumur–umurku mengenal Dela, baru kali ini dia jatuh pingsan seperti ini.

Kejadian ini merupakan awal komunikasiku terhadap Dela kembali seperti semula. “kamu gak apa kan Del?” tanyaku ketika Dela sudah sadar dan berbaring di ranjang UKS.
“aku kenapa coba?” Tanya Dela lemas.
“ya elah, kamu sih, pasti belum sarapan ya? Sampai pingsan gini..” sahutku.
Aku pun memberikannya air hangat. Dari tadi aku belum melihat petugas UKS menghampiri kami. Sampai akhirnya.

“aku haus juga nih. Bentar ya Del, aku ambil air dulu.” kataku sambil berbalik badan menuangkan air. Ketika itu, ku dengar suara pintu UKS yang berdecit tanda terdapat seseorang yang memasuki UKS ini. Aku pikir itu adalah petugas UKS yang sedang piket. “Hmm akhirnya ada juga yang ngurusin kita ya Del.” gumamku. Saat ku berbalik badan sambil meneguk segelas air, betapa terkejutnya aku melihat Edwin yang sedang memberikan obat kepada Dela. Aku pun terbatuk karena kagetku terjadi bersamaan saat aku meneguk air.
“kamu sakit juga?” tanya Kak Edwin dengan tampang datar tanpa ekspresinya.
“siapa? Aku?” tanyaku ragu.
“emang selain Dela, siapa lagi yang ada di sini?” tanyanya lagi.

Astaga ini kali pertamanya aku berceloteh tidak penting dengan Edwin. Ternyata dia adalah salah satu Petugas UKS? Wah, bisa kiamat sekolah ini kalau dia jadi petugas UKS. Apalagi nanti kalau dia jadi dokter. Bisa mati tuh semua pasiennya. Tunggu dulu. Ini tidak penting bukan?
Akhirnya aku dan Dela kembali normal. Mimpi burukku selama ini akhirnya berakhir. Apapun yang terjadi sebelumnya antara aku dan Dela mulai kami lupakan. Kami pun saling bercerita dan kembali saling mengisi satu sama lain. “aaaa aku seneng banget Kar… Tahu gini setiap hari aja aku pingsan ya..” Katanya sambil tersenyum bahagia.
“gak boleh ngomong gitu Del..” Jawabku.
“Bayangin aja kar, Kak Edwin ternyata udah tahu namaku..” Sahutnya dengan bahagia.
“ehmm, sampai mas-mas sol sepatu juga bakalan tahu namamu kali Del.” jawabku sambil memandang namanya yang sudah terjarit rapi di dada kanannya.
“eh.. abaikan kar.” sahutnya sambil menunduk melirik nama di dadanya.

Tak terasa hari ini merupakan hari yang kami tunggu. Tour Sekolah. Kami semua bersenang ria dalam mengikuti semua kegiatan. Cerahnya langit sangat mendukung kami dalam beraktivitas di pesisir pantai dan di atas perahu yang kami naiki. Banyak pelajaran yang kami dapatkan pada Tour kali ini. Waktu begitu cepat berlalu hingga tiba saatnya kami harus kembali ke sekolah. Akhir tempat wisata kami adalah taman kupu–kupu. Kebetulan aku memang sangat mencintai mahluk terbang ini. Ku menemukan seekor kupu–kupu dengan warna yang cukup cantik. Ku terus memandangi kupu–kupu tersebut hingga ku tak menyadari ternyata rombonganku sudah hilang. Aku pun bergegas mengejar rombonganku sampai di parkiran tempat para bus ditempatkan.
“waduh, bus kelasku yang mana ya?”

Aku cukup sulit untuk membedakan tiap bus yang ada di sana. Aku hanya menjadikan pohon–pohon di sekitarnya sebagai patokan. Dan seingatku bus kelasku parkir di sebelah pohon jepun. Tidak tunggu lama lagi, aku pun langsung saja bergegas masuk menuju bus tersebut. Sesampai di dalam bus, pintu bus langsung ditutup, ini menandakan bus ini menungguku untuk berjalan. Tanpa disadari, ternyata aku salah memasuki bus. Aku sempat terkejut dan bingung melihat orang–orang di dalam bus yang semuanya asing bagiku. Aku hanya bisa menelan ludah melihat keadaan ini. Langsung saja aku menghampiri sopir bus dan memintanya untuk berhenti karena aku yang salah menaiki bus. Tetapi sayang sekali, bus tidak bisa dihentikan begitu saja. Mau tidak mau aku harus ikut bus tersebut.

Tepatnya bus Kakak kelas. Dengan menahan rasa malu, aku mulai mencari tempat duduk kosong, dan betapa tidak beruntungnya aku karena tempat duduk kosong hanya ada di samping Edwin. Argumen orang mengenai dunia itu sempit ternyata benar. Jika boleh memilih, mendingan aku duduk di dalam toilet bus dari pada aku harus duduk bersama Edwin. Tapi tidaklah mungkin hal itu aku lakukan. Akhirnya dengan berat hati aku pun duduk di samping Edwin. Ternyata ada yang lebih buruk dari pada berantem dengan Dela, yaitu. Duduk bareng laki-laki sinis, sombong, dan parasit bagi organisme di sekitarnya.

Sepanjang perjalanan aku benar-benar jengkel dengan keadaan ini. Aku yang biasanya ribut, onar, dan ramai seketika saja sepi sunyi dan kalem. Ini gara-gara aku yang salah masuk bus dan berakibat fatal seperti ini. Seperti tidak ada orang lain yang aku pilih selain Edwin. Berarti dugaanku benar. Teman–teman kelasnya saja tidak mau dekat dengan Edwin bahkan duduk satu kursi pun tidak ada yang mau. “mending kek ada yang aku ajak ngomong gitu.” gumamku.
“masih sakit?” tanya Edwin yang cukup mengagetkanku.
“siapa? Aku?” tanyaku sambil menoleh ke arah Edwin.
“gak punya stok pertanyaan yang lain ya selain itu?” sahut Edwin dengan tampang datarnya. “jawab kek!” suruh Edwin.
“enggak, biasa aja.” jawabku cuek.
“kenapa bisa salah bus kalau gitu?” bertanya sambil membuka halaman novel.
“ehm, ketinggalan rombongan tadi..” Kataku terbata. Kenapa aku jadi ngeladenin semua pertanyaannya dia ya? Lama kelamaan Edwin malah berbicara lebih basa-basi lagi dari itu.
“namamu siapa?” Tanya Edwin.

“hah? Aku?” Pertanyaan yang selalu ku respon dengan pertanyaan membuatnya cukup kesal denganku.
“siapa lagi yang ada di sampingku kalau bukan kamu?” Sahutnya.
“Sekar.” jawabku singkat.
“hey, kamu niru nama Ibukku ya?” cetusnya.
“ya mana aku tahu kalau Ibumu namanya sama sepertiku..” Jawabku cuek.
“hahaha bercanda. Ya bagus dong kalau sama. Itu artinya di sini aku bisa nganggep kamu jadi Ibukku. Tenang aja, Ibukku cantik kok..” Aku tidak menyangka sama sekali. Ternyata Edwin yang ku vonis sombong, sok keren dan tidak bertanggung jawab itu ternyata asyik dan humoris. Lama–kelamaan pembicaraan kami semakin dekat dan tidak canggung. Dan aku mulai menemukan hal berbeda dari Edwin.
“kenapa Kakak gak duduk sama temen yang lain?” tanyaku spontan.
“hmm, karena aku punya feeling kalau akan ada kejutan di bus ini.” jawabnya.

Karena mulai kehabisan topik pembicaraan, aku pun memilih untuk berdiam diri. Tiba–tiba Edwin mengulurkan salah satu untaian pendengar musiknya ke hadapanku dan langsung memasangkannya ke telinga kiriku. Aku sempat terkejut dengan apa yang dilakukannya. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah lagu yang diputarkannya sama seperti lagu yang sering ku jadikan pengantar tidurku.
“Kakak suka lagu ini?” tanyaku.
“banget. Tepatnya sih cuma lirik lagu ini yang paling aku hafal..”

Seketika saja semua dugaanku terhadapnya lenyap begitu saja. Segala kesalahan yang telah ia lakukan padaku secara sengaja maupun tidak sengaja ku lupakan semudah ini. Dugaanku ini berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Aku pun tidak mengerti maksud dari perasaanku ini.
Sepanjang perjalanan hingga sampai di sekolah, aku tertidur dengan posisi menyender di bahu Edwin dan pendengar musik masih terpasang di telingaku. Aku pun terbangun dan cukup panik dengan keadaan ini. “maaf kak.” kataku sambil melepas pendengar musik di telingaku.
“maaf gak aku bangunin. Takut ganggu.” sahut Edwin sambil bangun dari kursi dan ke luar dari bus.
“ya ampun, Sekar kamu di mana sih tadi?” tanya Dela panik. Tidak mau membuat mereka penasaran.

Akhirnya aku hanya mengatakan kalau aku tadi berada di bus para guru.
Seharusnya malam ini aku sudah pulas terlelap tidur. Namun kejadian tadi membuatku tidak bisa membohongi perasaanku terhadap Edwin. Dela dan teman–teman yang lain sudah menganggap aku membenci Edwin. Tapi, secepat ini perasaanku berubah hanya karena kejadian singkat yang cukup konyol itu. Apa jadinya jika mereka tahu hal ini. Apapun yang terjadi dengan perasaanku ini, aku berkomitmen tidak akan memberitahu kepada siapa pun termasuk pada Dela.

Hari demi hari ku lewati dengan sewajarnya. Di luar aku memang terlihat masih membenci Edwin. Namun di dalam, aku sudah memvonis Edwin adalah cinta pertamaku, yang tidak penting untuk ku ceritakan pada orang lain. Biarlah perasaan ini bermain dengan sendirinya. Untuk pertama kalinya. Seorang laki–laki hinggap dengan mudahnya di hatiku. “Kak Edwin keren banget ya kalau lagi main basket..” Kata salah satu temanku.
“mana? Biasa aja sih.” sahutku sinis. Ya, seperti yang aku bilang tadi. Di luar aku memang sok membenci. Namun di dalam, aku benar–benar kagum dengannya.
Saat ku melintas di depan kelas Edwin bersama Dela, ku melirik ke dalam dan ku tersenyum saat ia memandangku.
“Cie senyum senyum sendiri..” Kata Dela.
“ha? Enggak.” sahutku menyembunyikan hal ini.

Tak bisa berlama–lama lagi aku menyembunyikan hal ini. Terutama kepada Dela. Namun di samping itu aku tidak mau mengaku jika sekarang Edwin menjadi cinta pertamaku, bahkan saat Edwin menawarkanku pulang bersamanya di depan teman–temanku. Tidak mungkin aku menerima ajakannya begitu saja. Sedangkan aku harus menyembunyikan perasaanku ini. Hal ini sangat mengejutkan teman–temanku dan jujur saja aku menyesal saat itu. Namun, Penyesalanku yang sebenarnya terjadi saat ku mendustai perasaanku sendiri. Dan saat itu aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.. sampai kapanpun.

Senja itu entah mengapa perasaanku menyuruhku untuk berjalan kaki pulang. Padahal saat itu Dela sudah menawarkanku beberapa kali utuk ikut dengannya. Tapi ku kira lebih baik aku berjalan kaki. Aku mulai menikmati perjalananku. Pikiranku melayang entah ke mana hingga aku tak menyadari sebuah truk sampah besar melaju ke arahku dengan cepatnya. Aku baru tersadar saat truk itu membunyikan belnya. Namun, tidaklah mungkin aku dapat menghindari laju truk itu dengan cepat. Kalau pun aku berusaha menghindarinya itu pasti akan sia-sia. Solusi satu-satunya adalah pasrah. Pandanganku kosong ke hadapan truk yang melaju ke arahku. “Ayah, aku datang.” kataku sambil memejamkan mata.

Kejadian itu berlalu sangat cepat. Tubuhku terasa terbawa dan terdorong ke pinggir jalan. Bukan karena truk. Tetapi karena seseorang yang mendorongku. Saat aku membuka mata ku kira aku akan bertemu Ayah. Namun ternyata aku masih ada di sekitar jalan tadi. “aku masih hidup..” Kataku. Aku telah diselamatkan seseorang. Aku langsung berlari menghampiri kerumunan orang yang berada di tengah jalan. “Delaaaaa…” teriakku sambil menyelip di antara kerumunan orang.

“Sekar, apa yang terjadi?” teriak Dela yang menggenggam tanganku dari belakang. Aku menoleh ke arahnya dan aku sangat terkejut.
“apa?” teriakku kaget dengan mata terbelalak. Ternyata bukan Dela yang menyelamatkanku. Lalu siapa yang terbaring di jalan ini? Secepat kilat aku masuk lagi di antara kerumunan tersebut. Tak ku sangka. “Kak Edwin?” teriakku histeris.

Aku langsung bersimpuh di samping Edwin yang tak sadarkan diri. Darah bersimbah di antara kepala dan hidungnya. Seragam putihnya diselimuti dengan lautan darah. Ku tak bisa berkata apapun melihat apa yang ku lihat. Air mataku memberontak ingin ke luar. Sekujur tubuhku gemetar dan jantungku berdebar kencang. Saat suara ambulans terdengar, orang–orang mengangkat Edwin dengan cepat. Aku masih tak sanggup berdiri. Aku hanya memandangi kerumunan orang yang pergi satu per satu. Termasuk Dela yang ikut mengantarkan Edwin dengan ambulans.

Pandangan kosongku akhirnya tertuju ke suatu benda. Benda itu tidak lain adalah seuntai pendengar musik milik Edwin yang tergeletak di jalan tersebut. Aku pun menggambil dan mengamatinya. Seketika saja di pikiranku terlintas kejadian di bus dulu saat Edwin memasangkan benda ini ke telingaku, saat Edwin hampir menyerempetku, saat Edwin mengenaiku bola basket, saat aku tertidur di bahu Edwin, saat Edwin memberikan senyum pertamanya kepadaku dan ku tak bisa bayangkan ke nekatannya menyelamatkan nyawaku tadi. Air mataku makin mengalir deras dan aku langsung berlari menuju Rumah Sakit menyusul Edwin.

Sesak rasanya dada ini ketika hari itu adalah hari terakhir Edwin. Betapa tak percayanya aku, mengetahui kepergian Edwin hanya karena menyelamatkan nyawaku.
“apa yang sudah aku lakukan? Aku membunuh cinta pertamaku?” Tak ada lagi yang bisa menghentikan tangisku. Kehilangan ini sangat membunuh batinku. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah aku akan menyusul Edwin. Aku akan dibenci semua orang karena kecelakaan itu. Aku hanya bisa memeluk Mama dan Dela. Aku kehabisan kata–kata lagi. Ketakutan, Kesedihan, dan rasa tidak percaya. Hanya itu yang ku kenal saat itu.

Bendera Kuning menghiasi rumah duka Edwin. Acara pemakaman berlalu sangat singkat. Aku sudah dapat membayangkan betapa mirisnya keluarga Edwin. Termasuk pengagum–pengagumnya. Bukan hanya mereka. Aku pun merasa kehilangan sosok Edwin yang setiap hari aku hindari. Penyesalan karena membohongi perasaan sendiri telah menghantuiku. Belum sempat Edwin tahu jika dia adalah cinta pertamaku. Belum sempat teman–temanku tahu kalau sebenarnya selama ini aku menyembunyikan perasaan cinta terhadap Edwin. Walaupun keluarga dan teman–teman Edwin sudah memaafkanku, tetapi diriku sendiri tidak akan bisa memaafkan apa yang telah ku lakukan selama ini.

Hari mulai senja, di dalam kamar aku menyender di sisi tembok sambil mendengarkan lagu penghantar tidurku. Aku mengambil bingkai foto Ayah dan pendegar musik milik Edwin yang tergeletak di jalan saat itu. Tak sanggup ku menahan air mata yang menyesakkan batinku ini. Ku hanya bisa menangis sambil memandangi kedua benda itu.

“Ayah, sekarang Sekar tahu, betapa beratnya menjadi seorang remaja. Bukan karena tugas yang menumpuk di sekolah. Tapi karena sakitnya mengikhlaskan orang yang kita sayang. Sekar janji, Sekar tidak akan pernah berbohong lagi. Sekar tidak akan pernah gengsi dan munafik dengan apapun itu. Sekar tidak mau kehilangan orang yang Sekar sayang untuk ketiga kalinya. Ayah, Sekar titip Kak Edwin ya. Dia baik kok. Dia tidak akan menyakiti Ayah di sana. Dan Ayah harus tahu, kalau dia adalah cinta pertamaku..”

“Maafkan aku Kak Edwin.”
“Cahaya senja menutup alur kita berdua..”


Cerpen Karangan: Cintya Kardev
Facebook: Cintya Karuniadevi

Dia, My First Love

Cinta, aku tidak begitu paham apa itu cinta. Bicara soal cinta aku benar-benar payah. Hal yang konyol di usiaku yang 20 tahun aku belum pernah pacaran. Menyedihkan, bukan? Apa aku tidak laku atau aku gadis tak normal? Haha, jangan sampai itu terjadi dalam hidupku. Tapi apa aku pernah Jatuh Cinta?
Entahlah aku tak yakin apa aku jatuh cinta. Ada seseorang yang menarik perhatianku sampai sekarang dan aku belum bisa melupakannya. Dia teman sekelasku, 3 tahun sekelas bukankah waktu yang cukup lama untuk saling mengenal. Tapi tidak dengan kami berdua, dia pria pendiam bahkan sangat pendiam. Jangankan untuk mengobrol seperti yang lain betegur sapa saja bisa ku hitung berapa kali.

Andrean Girsang namanya, pria keturunan Batak, dia siswa satu-satunya berbeda keyakinan dengan kami mungkin hal itulah yang membuatnya sedikit pendiam. Tampan, rajin, pandai bermain berbagai alat musik, ditambah suaranya yang merdu gadis mana yang tidak tegila-gila padanya, tapi tidak denganku sejak dia meperkenalkan diri di depan kelas aku tidak begitu tertarik dengannya. Tapi suatu hari entah setan apa yang merasukinya, atau dia geger otak, atau dia salah makan entah apalah itu. Dia berubah.
Ruang kesenian begitu ramai, suara riuk pikuk terdengar di setiap sudut ruangan. Pinjam ini, pinjam itu semua nampak begitu riuh. Aish, aku mendesah kesal mendapati kuasku satunya hilang. Ratih seingatku dia yang meminjamnya, aku segera menghampirinya dengan wajah kesal. “Aish kau ini kalau sudah dikembalikan.” Gerutuku kesal.

“Hehehe. Maaf Mega lupa.” Rengeknya manja. Aku kembali lagi ke tempatku dan melewati Andre.
“Jangan lihat.” Aku terkesiap kaget saat dia menutupi lukisannya dengan badannya.
“Hah. Siapa yang mau lihat orang cuma lewat doang.” Ucapku seraya pergi.
Bukan Mega jika tidak jail, aku membalikkan badanku hendak melihat lukisannya tapi usahaku gagal.
“Apa?” Pekiknya sedikit keras.
“Aish.” Aku kali ini benar kembali ke tempatku, entah sejak kapan dia mengikutiku.
“Wow. Jelek sekali.” Aku terkejut dengan sigap aku menutupi lukisanku dengan badanku sama seperti yang dia lakukan tapi bandannya lebih tinggi mampu menepisku.
“Kau? Sejak kapan kau di sini?”
“Jelek…” Ejeknya pada lukisanku.

Aku berlari ke tempat dia tadi berharap dapat membalasnya ejekannya, namun nihil lukisannya tak ada lagi di tempat. Dengan raut yang kesal aku kembali ke tempatku dan masih diikuti olehnya. “Jelek…” Lagi-lagi kata itu ke luar dari bibirnya.
“Masa bodoh yang penting aku buat.” Cecarku kesal.
“Jelek… Jelek banget.” Terus dan terus dia mengejek lukisanku, tapi herannya aku bukan kesal malah ketawa karena aku tidak pungkiri jika lukisanku memang Jelek.
“Cie… Cieee… Ciee…” Kami terdiam saat seruan sorak teman-teman kepada kami.
“Cie, Mega sama Andre pacaran ya?” Goda Riani teman karibku.
“Apa sih, emang kita ngapain?” Jawabku sedikit gugup.

Kami kembali membenarkan posisi, aku kembali menghadap lukisanku, dan dia kembali ke tempatnya.
Wajahku sedikit merona aku bisa rasakan dari hawa yang ku rasakan begitu panas.
Sejak kejadian itu dia benar-benar telah berubah. Setiap kali bertemu denganku dia selalu mengejekku, dia bahkan berani minta tulis padaku, dan hal apapun yang aku lakukan pasti jadi bahan ejekannya. Dengan perubahannya harusnya aku bahagia setidaknya ada perubahan pada dirinya, tapi kenapa aku merasa sedih. Iya, aku sedih semakin hari aku bersamanya ada sesuatu yang mengusik hatiku yang amat aku sadari itu. Cinta. Aku jatuh cinta padanya haruskah itu terjadi, mengingat siapa aku, siapa dia, apa rasa ini boleh terjadi?

Yang aku takutkan bukan beda keyakinan, tapi cintaku yang sepihak karena aku tahu dia menyukai gadis lain yang tak lain temanku sendiri. Ku putuskan untuk menjauhinya agar rasaku tidak semakin dalam. Sesak yang ku rasa satu hari tidak bicara dengannya aku begitu kosong, sepi, dan tak bergairah. Saat dia menegurku aku hanya tersenyum, saat dia mengejekku aku hanya tersenyum. Inikah nasib cinta sepihak. Hubungan kami semakin renggang, dia juga tidak peduli dengan perubahanku.

Hari terakhir UN, dia datang menghampiriku yang tengah sibuk maaf-maafan dengan teman-teman yang lain.
“Hei!.” Aku tersenyum saat dia menyapaku, sudah berapa lama aku tak mendengar suaranya.
“Hei!.” Aku berjalan menghapirinyanya, ku ulurkan tanganku padanya.
“Aku minta maaf.” Ucapku seraya tersenyum manis.
“Aku yang harusnya minta maaf karena aku sering mengejekmu.” Balasnya sambil meraih tanganku.
Hening, kami berdua terdiam dalam hening, “Mau foto kenangan denganku?” Mimikku terlihat bingung dengan ucapannya. “Besok aku akan pulang ke Medan ya apa salahnya jika aku mau berfoto dengan kawan sekelas.” Aku tidak dapat berkata-kata, lidahku terasa kelu.

Secepat inikah dia harus pergi, “Oh. Begitu.” Hening lagi, lidahku benar-benar kelu, aku tidak tahu harus berkata apa sesak rasanya hingga aku mengeluarkan kata konyol. Aku berseru pada teman sekelas memberitahu mereka bahwa dia akan pergi. Aku menatap wajahnya datar dia menatapku lekat, seketika wajah ceriaku pudar, entah kenapa aku takut menatap matanya.
“Benarkah? Andre jadi kau besok pulang ke Medan?” Tanya Adit.
“Iya Dit.”
“Kau tidak beri tahu kami jika kau pulang besok?”
“Iya ini memang mendadak, aku saja terkejut.” Bug. Pukulan ringan dari Bobi yang mendarat di perutnya membuatnya sedikit menjerit.
“B*rengsek kau, secepat itukah kau harus pergi?”
“Demi karir sobat, aku pikir kalian mengerti.” Semua teman-teman sekelas mendekatinya, semua sibuk berfoto terkecuali aku yang menjauh.

Semua bersorak riang melihat papan pengumuman ketika nama mereka terpapar kata LULUS. Aku celingak-celinguk mencari seseorang di keramian, ku cari dia di antara teman-temannya, tidak ada. Huft, aku mendengus sedih karena tidak mendapatinya di antara ratusan siswa. Aku berjalan tanpa tahu arah, aku benar-benar sedih. Tiba-tiba langkahku terhenti di depan kelas musik, ku langkahkan kakiku masuk. Piano, ku lihat sosok pria tengah bermain piano di sana, dia melirik ke arahku dan tersenyum. Ku balas senyum manis itu.

Aku berjalan mendekatinya semakin dekat pria itu semakin menghilang. Halusinasi, aku berhalusinasi. Aku duduk depan piano, mengingat saat dia bermain piano. Tanpa sadar jemariku mulai menari pada tuts piano. I Think I Love You, aku memainkan lagu dari Byul artis Korea. Aku masih ingat ketika aku memintanya memainkan lagu itu dengan paksa meski dengan raut masam dia menuruti permintaanku. Lagu pertama saat belajar piano darinya. Tanpa sadar air mataku menetes, begitu sedihkah cinta pertamaku. Sesulit inikah Jatuh Cinta, sesakit inikah Jatuh Cinta?


Cerpen Karangan: Mega Wati
Facebook: Mega Wati

Cinta Pertama Tak Terlupakan

Namaku Ridha usiaku 17 tahun aku sudah selesai sekolah di bangku SMK. Inilah kisah cintaku 4 tahun yang lalu. Berawal dari ketika aku masih SMP, waktu itu aku hanya naksir pada tetanggaku Dedhy yang beda 3 tahun dariku. Aku meminta nomor ponselnya dari salah satu temannya, ku coba mengirimkannya sms dengan nama samaranku Ifha. Sekitar seminggu kami saling smsan, akhirnya Dedhy mengajakku untuk ketemuan. Tapi aku malu, maklum baru pertama kali diajak ketemuan sama cowok. Jadi aku minta sahabatku Ifha untuk menemuinya sebentar sore.
“Ifha, lo mau gak menolongku?”
“emm.. memangnya apa?”
“mm.. entar sore lo ke rumahku ya”
“mau ngapain?” Ifha yang penasaran.
“Begini, entar sore Dedhy mau bertemu denganku, kan dia tahunya nama gue tu Ifha. Jadi lo yang akan menemuinya. Gue temenin kok. Mau yaa” rengekku kepada Ifha.
“What? Dedhy gebetan lo dan tetangga lo juga kan” Ifha kaget, tapi sebelumnya dia udah tahu kalau namanya yang aku pakai untuk dekat dengan Dedhy.
“hehehe, iya plis tolongin aku ya.”
“Oke, baiklah”
Sore harinya..
Aku menemani Ifha bertemu dengan Dedhy di depan rumah, tidak lama kemudian Dedhy pun datang. Setelah sejam mereka berbincang-bincang akhirnya Dedhy kembali ke rumahnya. Ifha pun begitu. Tapi setelah pertemuan itu Dedhy yang aku harapkan akan jadi pacarku, ternyata menyukai Ifha sahabatku, tapi Ifha gak suka sama Dedhy karena dia tahu kalau aku naksir sama Dedhy.

Silih berganti waktu rasa sukaku sedikit demi sedikit menghilang, tapi aku dan Dedhy masih berteman dengan baik. Aku pun sering datang ke rumahnya bermain kartu, ngobrol, dan main tenis. Aku dan teman-temanku berencana akan ke rumahnya sore ini, kebetulan dia gak sibuk. Dedhy dan sepupunya bernama Khydung sedang bermain tenis di kolom rumahnya, aku dan temanku pun datang menghampirinya yang sedang asyik bermain. Aku, Ifha, dan Dedhy asyik ngobrol di belakang dan temanku yang lainnya bermain tenis. Selesai permainan hari ini. Malam pun tiba, aku tidak mendengarkan ponselku berdering tanda panggilan masuk, setelah ku cek ponselku 1 panggilan tak terjawab nomor tak dikenal. Aku mengirim sms ke nomor tadi.
“Siapa ya?”
“Aku Khyidung.” jawabnya.
Itulah awal dari perkenalan kami, aku dan dia semakin dekat. Dia mengatakan kalau dia belum punya pacar jadi aku berniat mencarikannya pacar, tapi katanya dia suka sama aku. Aku menerimanya tepat tanggal 29 Desember 2010. Kami lalui masa-masa pacaran, meskipun hanya saling melihat dari kejauhan itu pun kalau dia ke rumah Dedhy tetanggaku. Kami pernah bertemu secara langsung tapi cuma sebentar dan hanya sekali. Cukup sebulan kami pacaran. Aku mengakhiri hubungan ini dengan alasan yang tidak jelas.
“Hmm.. sebaiknya kita bersahabat saja,” Kataku lewat sms.
“Terserah kamu saja,” jawabnya singkat, mungkin dia kecewa.
Mulai saat itu hubungan kami renggang, dia minta balikan tapi aku tidak tahu apa maksud dari perkataannya, yaa.. karena aku masih polos dan baru pertama kali pacaran.

Sehari setelah aku putus dengan Khyung, aku baru merasa kehilangan dan membuatku terpuruk. Aku merasa sepi tidak ada lagi sms darinya yang penuh dengan kata-kata manis, aku menangis sampai mataku bengkak. Di sekolah temanku bertanya apa yang terjadi padaku dan mencoba menghiburku. Sebenarnya saat itu aku masih mencintai Khydung sampai sekarang, mau gimana lagi semuanya sudah berakhir. Dia sekarang udah gak ada kabar mungkin karena sibuk kuliah. Meskipun telah banyak pria yang aku kenal rasa cintaku ini tak pernah sedikit pun pudar untuknya. Aku berharap suatu saat nanti aku dan dia dipertemukan kembali di kehidupan yang akan datang.
The End


Cerpen Karangan: Ridha Michael
Facebook: Ridha Michael

Melepas Cinta

Aku bagai tersihir oleh seyuman dan tatapannya. Oh God apa yang harus aku lakukan? Aku tak dapat mengontrol lagi perasaanku kepadanya, dia benar-benar telah mengalihkan duniaku. Aku sekarang merasa seperti orang yang paling aneh dari orang aneh, biasanya orang aneh menurut versiku (hehehe) adalah orang yang sering tersenyum sendiri ketika pegang Hp atau lagi baca komik, novel, dan lainnya.

Lah ini aku, senyum-senyum sendiri disertai pipi merah semu tanpa pegang apa pun gimana mau gak dibilang aneh bin ajaib. Oh No, jangan sampai aku jadi gila karena cinta ini yang menurut aku cinta ini akan bertepuk sebelah tangan seperti lagunya Ribbas. Yang pada endingnya tak jauh-jauh dari kisah cintaku semenjak SD-SMA. Bisa dibayangkan yang terbalas hanya 3 dan yang jadi cuma 1 itu pun mantan pacar pertamaku (hahaha) menyedihkan sekali ya kisah percintaanku.

Selama 23 tahun ini hanya sekali aku pacaran dalam dunia nyata dan itu pun hanya bertahan 1 setengah tahun yang putus nyambung kayak benang layangan aja. Huft… bukan berarti aku nggak laku guys tapi karena aku terikat janji sama mamaku yang hanya boleh pacaran setelah lulus SMA dan bekerja. Alhasil tiap kali aku deket sama orang ya selalu dalam ruang lingkup TTM (teman tapi mesra) dan HTS (hubungan tanpa status).
Dan menurutku kisah cintaku yang terumit adalah sekarang, bagimana tidak? selain aku yang 2 tahun ini baru menyadari bahwa aku suka sama Kak Deva saudara sepupuku juga menyukainya bahkan seisi kantor pun telah mengetahui kalau saudaraku itu suka sama Kak Deva. Nggak lucu kan aku tiba-tiba dipergoki suka juga sama Kak Deva? Entar aku dikira perebut gebetan saudara sendiri dan pastinya aku nggak mungkin nyakitin hati saudaraku itu. Ya beginilah rumitnya kisah cinta yang aku jalani, tapi tak bisa dipungkiri aku benar-benar telah jatuh hati sama Kak Deva.

Tak peduli umur kita yang terpaut 4 tahun tak peduli dia mempunyai kekurangan apa pun yang terlihat ataupun tak terlihat, yang jelas sekarang aku benar-benar menyukainya dan aku tak tahu karena apa. Aku merasa nyaman, nyambung pas bicara dan merasa banyak beberapa kesukaan kita yang sama seperti contoh drama-drama atau film korea, lagu, pokoknya yang berhubungan dengan korea dia juga suka.
Jarang sekali kan, kita menemukan seorang laki-laki yang suka hal-hal berbau korea, apalagi dia itu pinter banget yang namanya IT dia bisa menservice apa pun termasuk hatiku (hehehe) benar-benar aku dibuat kecanduan olehnya seakan aku tak bisa bila jauh dengannya. Dia orang yang sempurna di mataku, hidungnya, matanya, bibirnya, raut wajahnya, dan seluruh tubuhnya aku suka. Aaah… gila, bena-benar aku sudah gila sekarang!

Tiba-tiba bunyi sms membuyarkan setiap lamunanku. Ku baca layar dari Handphone-ku, tertera nama Kak Deva. Seketika mataku terbelalak mendapati dia yang ku pikirkan tiba-tiba mengsmsku.
“Aku di depan rumahmu sekarang Ay.” Tulis sms Kak Dika.
Aku balas sms Kak Dika dengan mengetik “Loh jadi Kak? aku kira nggak jadi ke sini. Oke tunggu aku ke luar.”

Aku kirim dan langsung berhambur mencari jaket dan sedikit melirik penampilanku di depan cermin. Oke nggak terlalu berantakan, biarlah dia tahu penampilanku yang apa adanya ini dikala malam hari, apalagi sekarang sudah jam 9 malam lebih. Ku buka pintu dan ku dapati Kak Deva sudah berada tepat di hadapanku, dag-dig-dug deear yang aku rasakan, aduh jangan sampai Kak Deva mendengar detakan jantungku yang semakin cepat untuk berdetak.
“Kirain nggak jadi ke sini Kak.”
“Ya jadilah kan aku udah bilang, pantang buat aku untuk melupakan apa yang telah aku janjikan kecuali kalau memang benar-benar ada keperluan yang mendesak.” Jawabnya sembari tersenyum jahil melirikku. Oh God please Ay jangan sampai kamu pingsan di sini, meleleh rasanya melihat senyuman dan lirikan matanya.

Dan malam itu pun berakhir menyenangkan, walaupun Kak Deva ke tempatku hanya karena ingin memperbaiki data kantorku yang tiba-tiba terkena virus tapi tak apalah ini merupakan bencana yang menyenangkan buatku bahkan aku merasa telah terkena virus juga, virus cinta (hahaha). Keesokkan harinya seperti biasa aku berangkat 15 menit lebih awal untuk menghindarinya panjangnya antrean lift kantor di pagi hari, dan pagi ini aku tak sengaja 1 lift dengan Berta saudara sepupuku.
“Hey, Ayma. Aku mau curhat sama kamu nih, nanti ke ruanganku sebentar bisa kan ya? Please.” Katanya dengan wajah polos dan imut. Okelah aku nggak mungkin menolak permintaannya.
“Baiklah.” ucapku seraya tersenyum. Lift menunjukkan lantai 5 di mana aku dan Berta harus turun, kami langsung melangkah menuju ruangnanya. Masih sepi yah karena masih 10 menit lagi perkantoran dimulai. Sampai di situ Berta langsung menarik tanganku dan mendudukkanku di kursi duduknya.
“Ay kamu tahu nggak, kalau aku dan Kak Deva akan ditugaskan ke luar kota selama 1 bulan, dan itu artinya aku dan Kak Deva akan bersama-sama selama 1 bulan nanti. Aaah aku tak bisa membayangkan akan bersama dengannya selama itu, dan semoga saja selama kebersamaan kita itu akan ada Rasa yang tumbuh di hati Kak Deva. Aku sudah tak tahan lagi jika terus memendam perasaan ini Ay.” Cerita Berta dengan penuh kebahagiaan.
Aku hanya mampu menyungingkan senyuman walaupun sebenarnya bagai tersambar petir aku mendengar berita tersebut, “mereka akan bersama-sama selama 1 bulan? Aku tidak akan bertemu dengan Kak Deva selama 1 bulan? Tidak ada hal yang mustahil jika mereka tidak saling jatuh cinta selama di sana, Berta orangnya manis dan baik bagimana mungkin tak ada seorang pria yang jatuh cinta pada gadis baik dan manis yang mencintainya dengan tulus? Toh Kak Deva juga selalu bersikap baik kepada Berta bahkan aku rasa lebih dari sekedar rekan kerja.
Tiba-tiba aku merasa susah untuk bernapas, aku tak dapat berpikir jenih. Hanya sakit yang ku rasakan sekarang aku benar-benar harus melupakan Kak Deva, aku tak mungkin merusak kebahagiaan saudaraku ini dan bahkan kebahagiaan Kak Deva nantinya. “Ay, kok ngelamun?” tepukan Berta menyadarkanku, “Oh, maaf aku nggak fokus ya. Selamat ya Ta, jadi kamu pasti akan bisa lebih intens dengan Kak Deva dan ini kesempatan untuk mengungkapkan perasaan kamu juga.” Jawabku sembari tersenyum.
“Tapi aku nggak tahu Ay, Kak Deva suka sama aku juga atau tidak. Aku takutnya pas aku ungkapin perasaanku Kak Deva malah menolaknya gimana dong.”
“Kamu tak akan tahu jawabnnya jika kamu tidak mencobanya, so kamu coba dulu yah. Kemungkinan apa pun bisa terjadi, siapa tahu selama ini Kak Deva juga punya hati kepadamu.” jawabku dengan senyum manis, “yah aku harus bahagia jika Berta dan Kak Deva bahagia” itu pikirku.

Dan hari itu pun dimulai dimana hari keberangkatan Berta dan Kak Deva ditugaskan ke luar kota bersama, entah aku harus merasa bahagia atau sedih. Yang pasti sekarang pikiranku berkecamuk. Tersenyum, yah itulah yang bisa aku lakukan walaupun sebenarnya senyuman itu sangat pahit. Mencoba mengikhlaskan orang yang kita cinta untuk orang yang kita sayangi dan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai itu tak mudah. Dan itulah yang aku rasakan sekarang, harus melepasnya.


Cerpen Karangan: Nur Widayanti
Blog: widagezy.wordpress.com

Jumat, 21 Desember 2012

Antara Cinta dan Persahabatan

Ketika Flamboyan Berbunga


SEPERTI rumput hidup manusia. Seperti bunga padang yang mulia, kata kitab
suci. Lalu, dalam realita : rerumputan yang kuning digaring matahari akan
kembali hijau di musim hujan.


Cemara tak pernah kehabisan daun kendati angin tak bosan-bosannya
meluruhkannya. Flamboyan sekali tempo akan gundul, tetapi kemudian kembali
rimbun berbunga molek.


Jadi, tak patut meratap jika nasib terpuruk ke dalam kekecewaan, sesekali.
Ah, terlalu optimistis agaknya. Ya, walaupun mungkin berlebihan, begitulah
bagi Tody. Lelaki muda ini sesungguhnya menerima rumput kering dari
realita. Tetapi, dia berusaha agar di hatinya berbunga flamboyan cantik.


Bunga flamboyan mekar di kepala gadis-gadis. Oh, bukan. Cuma pita-pita
berwarna merah, kuning, atau hijau mengikat kucir-kucir rambut mereka,
calon-calon mahasiswi yang sedang menjalani Mapram. Mapram atau
perpeloncoankah namanya, bagi Faraitody tak perlu dipersoalkan. Soal nama,
itu urusan menteri PDK. Dia cuma tahu, masa itu menggembirakan. Kegembiraan
sesaat, dan kemudian terkulai layu dalam realita rumput kering.


Dia menatap tubuh calon-calon mahasiswa yang duduk di lantai. Satu-satu
wajah itu diamatinya. Dan, seperti tahun-tahun yang dulu di Kampus Gadjah
Mada itu, dia melihat pancaran yang serupa. Pancaran wajah yang pasrah,
patuh, dan penurut. Untuk beberapa hari ini, dia merasa dirinya bisa
menjadi penguasa. Hitam katanya adalah hitam yang harus dikerjakan camacami
yang diperintahnya.


Tetapi, kekuasaan yang hanya beberapa saat itu tak lagi menarik, sekarang.
Tahun-tahun yang berlalu telah mengajarkan untuk jangan percaya pada
kelembutan gadis-gadis mahasiswi baru itu. Selama masa penggojlogan, mereka
akan semanis anak kelinci jinak. Tetapi, serentak mereka mendadak jadi
putri kahyangan begitu perpeloncoan berakhir. Putri kahyangan yang
senyumnya aduhai sinis, yang sombongnya allahurabbi.


Memang ada satu-dua mahasiswa senior berhasil memetik mawar baru di kampus
ini. Tetapi, yang dialami Tody: dia selamanya salah pilih. Dia mendekati
gadis yang ternyata pura-pura melayani. Jadi sambutan untuk sekuriti saja.


Seperti tahun yang lalu misalnya. Dia menerima ucapan. "Maaf, Mas Tody.
Malam Inaugurasi nanti saya dijemput teman."


Atau tahun sebelumnya, "Perkenalkan, Mas Tody, ini Mas...." dan seterusnya,
dan seterusnya.


Itulah realita rumput kering.



www.rajaebookgratis.com


Maka sekarang tak lagi ada niat mendekati seorang gadis pun. Dia mengikuti
Mapram itu hanya sebagai panitia tak lebih. Dia bekerja dengan kerutinan
yang pernah dialaminya selama bertahun-tahun menjadi aktivis di kampus itu.
Dia mengawasi acara olah raga, perlombaan seni, mengawasi ini-itu tanpa
ambisi bercinta.


Pengalaman membuat dia sebagai introvert jera. Dia lebih banyak merenungi
dirinya sendiri. Lebih banyak berbicara dengan diri sendiri. Apakah yang
salah dalam diriku? Kenapa aku selalu mengalami kepahitan dalam berhubungan
dengan gadis-gadis?


Dia membandingkan dirinya dengan teman-temannya. Dengan Daniel, sebenarnya
aku tidak kalah, pikirnya. Tapi, kenapa Daniel bisa memperoleh seorang
gadis yang setia mendampinginya?


Atau Fauzi. Dia juga punya pacar yang sangat manis. Kenapa dia bisa? Kenapa
aku tidak?


Secara fisik, aku tak terlalu buruk. Dan, Tody mengawasi bayangan dirinya
di kaca jendela. Dia bertemu dengan mata yang lunak, dan profil yang lunak
pula. Dagunya tidak sekasar dagu lelaki-lelaki yang lahir di daerahnya, di
Nusatenggara Timur sana. Malahan terlalu halus. Maka dia ingat waktu kecil
dulu. Kerap sekali dia diganggu teman-temannya hanya karena kehalusan wajah
dan tubuhnya. Oleh karena itu dia kerap berkelahi, dan kerap dikucilkan
teman-temannya.


Sekarang, dia tidak dikucilkan oleh siapa pun. Tetapi, realita rumput
keringlah yang dihadapinya dari hari ke hari. Cuma, tak seorang pun tahu.
Tiap orang tetap mengenal dia sebagai aktivis mahasiswa yang ramah, yang
selalu hadir dalam setiap kegiatan di kampus.


Dalam kegiatan sekarang, dia lebih berhati-hati. Terutama dalam menghadapi
gadis-gadis cantik. Dia tak mau sekali lagi terkecoh. Terkecoh oleh
kejinakan gadis yang hanya sekadar mencari pelindung selama penggojlogan.


Boleh jadi lantaran hatinya kelewat lunak maka dulu gampang tertipu. Dan,
itu tak boleh terulang lagi. Keledai pun akan malu tersandung berkali-kali.
Apakah aku harus mengalami peristiwa serupa sampai tiga kali? Bah,
konyolnya!


Tody melirik lewat pintu yang terbuka. Seorang cami dibopong ke kantor
panitia itu.


"Semaput," kata Sartono, mahasiswa senior yang mengantar. Tody tak bergerak
dari kursinya. Mukanya bereaksi pun tidak.


Cami itu dibaringkan di divan yang memang tersedia di kantor itu.


"Mana seksi kesehatan?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Mungkin di WC," kata Tody datar.


Sartono berlari keluar. Tody tersenyum. Dia ingat, tahun-tahun yang lalu
dia pun akan sesigap senioren itu kalau menghadapi gadis-gadis yang
mengalami kesulitan. Siapa tahu bisa memetik kelapa. Padahal, tak tahunya
yang tertanam cuma mumbang.


Tak lama kemudian Sartono muncul.


"Tak ada di situ," katanya dalam napas terengah.


"Katanya tadi mau buang air." Masih datar suara Tody. "Atau dia sedang
makan di kantin. Bagi anak-anak kedokteran, makan dan buang air memang sama
maknanya."


"Bagaimana ini, Mas Tody?"


Tody memperhatikan tanda "K" yang berarti keamanan di baju Sartono. "Apanya
bagaimana?"


"Cami ini...."


"Tak apa-apa. Dia cuma kelenger karena panas matahari. Sebentar lagi dia
akan bangun." Tody mengalihkan pandang ke tubuh yang terbaring itu. Seorang
mahasiswi senior mengipasi cami itu.


Dengan rambut yang dikuncir kecil-kecil dan mata terpejam, cami itu seperti
anak kecil. Atau mungkin karena wajahnya yang mungil seperti boneka kurus
itu? Tulang pipinya samar menonjol. Bibirnya pias, tetapi bentuknya bagus.
Lekukan yang sering ngambek naga-naganya. Dan, hidungnya harmonis dengan
wajah dan bibir itu. Bulu matanya yang lentik membuat kelopak matanya
indah. Gadis yang mengipasinya, Widuri, anak tingkat tiga atau dua, Tody
kurang tahu. Dia cuma pasti bahwa gadis itu sefakultas dengannya. Pernah
dia pelonco.


Wajah gadis itu rusuh. Mungkin dia mengkhawatirkan cami yang pingsan itu.
Sesekali dia menatap Tody. Dan, Tody tak suka menerima tatapan yang
menuntut itu.


"Kipasi saja. Nanti dia akan sadar," kata Tody. Dia kembali membaca
bukunya.


"Mas Tody," kata Widuri takut-takut, "sebaiknya seksi kesehatan dipanggil."


Tody mengangkat kepala. Sekejap mata mereka bersamplokan.


"Dia tidak akan apa-apa. Aku sudah berpuluh-puluh kali menghadapi orang
semaput."


"Tapi, cami ini kelihatannya sangat lemah."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Tody menggerakkan tangannya, dan Widuri tahu bahwa lelaki ini tak ingin
diganggu. Gadis itu menghela napas dalam-dalam, dan mengalihkan pandangan
kepada Sartono.


"Apa yang kautunggu lagi, Ton?"
Sartono mengangkat alisnya.
"Carilah seksi kesehatan," lanjut Widuri.
"Ke mana harus kucari?"
Widuri menghembuskan napas kuat-kuat.
"Ke mana harus kaucari?" ulangnya dengan bibir melekuk.
"Cari ke mana saja."
Sartono keluar. Lewat jendela gerutunya tertinggal. "Seksi kesehatan


sialan! Enak-enak meninggalkan posnya. Tak punya tanggung jawab! Bangsat!
Ini perlu dirapatkan. Ini skandal tugas!"


"Jangan mengomel lagi, Ton!" Hampir berteriak Widuri.
"Ya, Tuan, Putriii!" balas Sartono tak kalah kerasnya. Akibat teriakanteriakan
itu, cami itu menggeliat. Kemudian matanya terbuka.


"Eh, dia sudah sadar," kata Widuri.
Bola mata cami itu mengitar-ngitar di balik bulu matanya yang lentik.
"Beri dia minum," kata Tody tanpa memandang.
Cami itu duduk dengan bertumpu pada rangkulan Widuri. Dia minum sementara


matanya takut-takut menatap seluruh ruangan.
"Agak segar?" tanya Widuri.
Cami itu mengangguk.
"Istirahatiah."
"Dia sudah cukup istirahat. Dia harus kembali ke barisannya," kata Tody


dari sudut ruangan itu. Matanya tetap pada bukunya.
"Dia masih lemah," kata Widuri.
"Dia sudah kuat untuk bergabung dengan teman-temannya."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Nanti dia sakit."
"Dia sudah cukup beristirahat waktu tidur tadi."
"Dia pingsan tadi."
"Di lapangan tadi mungkin dia pingsan. Tapi, di sini dia tidur."
"Saya tahu pasti, dia pingsan."
"Apakah orang pingsan terbangun mendengar teriakan?" kata Tody tajam.
Widuri menatap cami itu.
"Aku sudah berpengalaman menghadapi akal bulus cami-cami yang malas


mengikuti acara-acara. Mapram ini untuk menanamkan disiplin. Setiap calon
mahasiswa harus mengikutinya. Tak ada tempat untuk mereka yang bermanjamanja."


"Adik sudah bisa bangun?" tanya Widuri.


Cami itu mengangguk. Lalu dia bangkit. Dan, pemandangannya gelap. Seribu
kunang-kunang mengerjap di matanya. Dia terduduk kembali di divan.
"Dia masih lemah," kata Widuri. Nada protes pada suara itu menyebabkan Tody


memandangnya.
Widuri menunduk.
"Dia belum bisa mengikuti acara-acara," katanya pelahan.
"Apamu dia rupanya, Widuri? Makanya kaulindungi begitu?"
"Saya tidak melindunginya. Saya cuma melihat kenyataannya."
"Kau memang lemah! Teman-teman bilang, kau membuat cami-cami menjadi manja.


Membuat mereka berani membangkang."


"Anggota panitia banyak yang sewenang-wenang. Sudah tahu sakit, cami-cami
masih dipaksa ikut," ujar Widuri sengit.
"Mereka semua sudah pernah mengalami sendiri."
"Karena itu seharusnya punya teposeliro. Jangan memaksa."
"Tahun-tahun dahulu, masa perpeloncoan kami jauh lebih berat lagi. Sekarang


sudah lebih enak, tapi masih mau bermanja-manja," kata Tody tak acuh.
Cami itu menatap berganti-ganti, dari Widuri beralih ke Tody.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Jadi, lantaran dulu lebih berat maka sekarang orang sakit harus disuruh
lari-lari di siang bolong begini? Coba diri sendiri, bagaimana rasanya lari
di bawah matahari."


"Itu ‘kan perlu untuk menggembleng."


"Menggembleng bukan begitu caranya."


"Dulu jauh lebih berat. Kami harus berjalan jongkok atau merangkak dengan
mata tertutup. Ditendangi senioren. Disuruh minum kastroli. Disiram
kencing. Dibanding dulu...."


"Dulu, dulu, dulu!" tambah sengit suara Widuri. "Tapi, sekarang dia sakit.
Dia tak bisa mengikuti acara-acara!"


Tody terheran-heran melihat kemarahan gadis itu. Lebih heran lagi melihat
matanya yang merah, hampir membanjirkan air mata.


O, mungkin karena terlalu letih maka dia jadi pemarah, pikir Tody. Lalu dia
bangkit.


"Jangan melindungi orang-orang yang melanggar disiplin. Aku tahu pasti,
cami ini tadi tidur. Dibandingkan dengan teman-temannya, dia masih
beruntung. Sebab, dia bisa beristirahat beberapa menit sementara yang lain
harus berpanggang hampir jadi sate." Tody mendekati cami itu. "Ayo, Nona,
kembali ke kelompokmu!"


Cami itu berusaha berdiri, tetapi baru tegak beberapa centi, kunang-kunang
kembali menyergap matanya. Dia sempoyongan, dan Widuri merangkul kembali.


"Lihat, dia sakit. Dia sakit!" kata Widuri.


Cami itu merasa denyutan di kepalanya tak kepalang tanggung, dan udara yang
menyungkupnya betapa pengab. Bibirnya yang mungil gemetaran. Dan,
sesungguhnya, bukan udara pengab itu yang menggeletarkan bibirnya,
melainkan kesakithatian di dadanyalah yang lebih terasa. Dia belum pernah
diperlakukan sekasar itu. Belum pernah disewenang-wenangi seperti sekarang
ini. Maka dia ingat rumahnya yang sejuk. Ingat pepohonan yang menaungi
rumah itu. Ingat tempat tidurnya yang empuk. Ingat ibunya yang selalu
membujuknya jika dia merajuk. Ingat sopir mereka yang akan patuh mengantar
ke mana pun dia perintahkan.


Adapun di sini, dalam keadaan pening begini masih juga dipaksa mengikuti
acara di lapangan yang terik itu. Masih dipaksa menerima terkaman matahari
yang tak kenal ampun di kulminasi langit itu. Kalau tahu begini, lebih baik
tak usah jadi mahasiswa. Buat apa? Lulus universitas toh belum tentu
senang.


Cami itu terisak. Dia menekap mukanya. Widuri melontarkan pandang protes
lagi. Ah, bukan sekadar protes. Dari mata itu mengalir air. Wah!


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Tody terbengong-bengong.
"Kok jadi nangis?"
"Tak punya perikemanusiaan!" gumam Widuri.
Isak cami itu semakin keras.
Tak punya perikemanusiaan? Bah, parah ini, pikir Tody.
"Sudahlah. Cami ini boleh istirahat di sini."
Widuri mengusap matanya dengan saputangan. Tetapi, cami itu masih terisak.


Mata Widuri memerah. Lalu, ia berkata, "Istirahatlah dulu. Kalau Adik mau
minum, ini minumanmu."
"Terima kasih, Mbak, terima kasih," desah cami itu.
Widuri melangkah ke pintu.


"Kau pun perlu istirahat agaknya, Widuri," kata Tody.
Gadis itu berhenti di pintu. Membalik. Maka Tody bisa melihat wajahnya yang
bulat telur, dan kulitnya yang antara warna kuning ke sawo matang. Bibirnya
yang bagus itu kemudian mencibir, "Huh!" katanya.


"Wah," kata Tody.
Widuri keluar. Tody termangu. Widuri, gadis yang waktu pelonco dulu bukan
main patuhnya, bahkan bisa digolongkan penakut. Orang tuanya tinggal di
desa. Selain cantik dan bisa melanjutkan ke universitas, ini berarti orang
tuanya termasuk terpandang di desa itu. Tetapi, berada di tengah-tengah


Kampus Gadjah Mada, gadis itu seperti rusa masuk kampung. Bingung. Takut.
Waswas. Akibatnya, patuh pada perintah setiap senioren.
Sekarang gadis itu tak sepenakut dulu. Dia ikut dalam kepanitiaan Mapram.


Dia tak canggung mengatur acara-acara. Tetapi, rupanya dia tak kehilangan


kelembutannya. Dan, tak kehilangan kesabarannya.
Isak cami itu masih terdengar. Tody tak lagi melihat Widuri yang telah
lenyap di balik gedung. Cami itu menekap mukanya. Dia duduk di pinggir
divan seksi kesehatan.


"Hei, berhenti menangis!" kata Tody.
Gadis itu berusaha menyekap suara isaknya menyebabkan dadanya turun-naik.
"Duduklah di kursi plastik itu. Kau bisa lebih santai."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Gadis itu mengangkat wajahnya. Wajah yang basah. Entah keringat atau air
mata. Cuma, matanya yang merah menandakan bahwa dia betul-betul sedang
parah menangis.


Tody menunjuk kursi plastik di dekat divan. Gadis itu bangkit dan duduk di
situ.
"Nah, sekarang, siapa namamu?"


"Centil," kata gadis itu hampir dalam bisik.
"Bah, itu aku sudah tahu. Sudah kulihat atributmu itu. Nama aslimu,
kumaksud."


"Irawati."
"Fakultas?"
"Sastra."
"Jurusan?"
"Inggris."
"Inggris? Coba omong Inggris."
"Belum bisa."
"Tapi, jurusan Inggris."
"Belum belajar."
"Di SMA ‘kan sudah pernah belajar? Bisa masuk jurusan itu tentu karena


Inggrisnya lumayan."
Cami itu diam.
"Ayo, ngomonglah."
Gadis itu tetap membisu dengan kepala tertunduk. Karena tetap seperti itu,


Tody pun kembali menghadapi buku-bukunya. Dia membiarkan ruangan itu sepi.
Di luar, matahari membuat tanah berpasir garing menguapkan sari-sari panas
kemarau. Angin bertiup sesekali menerbangkan debu. Teriakan-teriakan
senioren yang membentak-bentak cama-cami merayap masuk kantor panitia.


Mapram sekarang jauh lebih ringan dari perpeloncoan tahun-tahun sebelumnya.
Tetapi, orang-orang sudah mengeluh. Lantaran terjadi kemunduran generasi?
Karena mahasiswa-mahasiswa baru sekarang lebih lemah mentalnya dibandingkan
dengan mahasiswa sebelumnya? Atau karena mereka terbiasa hidup manja?


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Seperti cami ini. Tody mengangkat matanya. Rupa-rupanya gadis itu mengawasi
Tody sejak tadi. Maka sekarang dia bagai kucing yang ketahuan mencuri ikan
asin. Matanya ketakutan mengelak dari tatapan Tody.


"Masih pening?"


Gadis itu mengangguk cepat-cepat.


"Minumlah dulu. Itu minumanmu di meja."


Gadis itu minum seteguk demi seteguk. Sesekali matanya melirik Tody.


"Kau sering sakit?"


Gadis itu mengangguk.


"Tapi, kau sering begadang, ‘kan?" kata Tody.


Mata gadis itu terbelalak. Dan, mata yang berbulu lentik itu aduhai indah.


"Aku tahu kau suka pesta. Betul tidak?"


Gadis itu membisu. Tangannya mengusap-usap gelas.


"Biarpun kuliahku di ekonomi, aku tahu psikologi. Dengan melihat
kemanjaanmu, aku tahu kesukaan-kesukaanmu. Kau suka kehidupan yang selalu
gembira, tapi kurang bertanggung jawab. Kau termasuk tipe orang yang mau
bunuh diri kalau menghadapi badai kehidupan."


Gadis itu - Irawati - tercengang. Dia sendiri tak pernah memikirkan: orang
macam apakah dia. Dia hanya tahu menjalani kehidupan ini. Itu saja. Dia
hidup dengan ayah-ibunya yang mencintainya. Itulah segalanya. Lalu sekarang
seseorang mengatakan bahwa dia akan bunuh diri kalau menghadapi badai
kehidupan. Ah, badai bagaimana yang dimaksudkannya?


Irawati ingin melirik lelaki itu, tetapi dia ingat betapa dingin mata
lelaki itu. Mata yang tak acuh. Alangkah tak nyaman berbenturan pandang
mata yang tak bersahabat!


Tody memperhatikan lima pita yang mengikat kucir kecil rambut gadis itu.
Rambut yang legam mengkilat. Gadis itu memijit-mijit pelipisnya. Lewat
jendela dia memandangi pucuk cemara yang melambai-lambai mengikuti terpaan
angin. Langit biru bersih, gumpalan awan putih seputih kapas. Di Kaliurang,
pada siang ini, pinus juga bergoyangan, dan langit pun membiru. Tetapi,
udara pastilah sejuk. Di bungalow, dengan halaman dipenuhi bunga bermekaran
dengan warna merah, kuning, putih, ungu, betapa nyaman. Tidak seperti di
ruangan ini. Alangkah panas. Alangkah pengab. Karena matahari tak kenal
ampun. Atau mungkin karena tatapan tawar lelaki itu?


Lelaki itu, kenapa setawar itu memandang perempuan? Tidak kayak anggota


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


panitia lainnya. Mereka berlomba-lomba memberikan perhatian. Ada yang purapura
membentak, tetapi sebenarnya menunggu senyuman. Dan, lelaki ini?
Memang tidak membentak-bentak. Cuma, dingin tatapannya membuat takut orang
yang memandangnya. Siapa dia? Siapa dia? Mas Sartono, anggota keamanan
tadi, takut kepadanya. Mbak bagian keputrian tadi pun segan-segan nampaknya
di depan lelaki ini.


Kursi berderit, Tody berdiri. Sekejap dia meliukkan pinggang untuk
menghilangkan rasa pegal. Tanpa memandang, dia berkata, "Istirahat saja di
sini. Kalau ada yang bertanya, bilang sudah aku izinkan."


Irawati mengawasi punggung lelaki itu melalui lubang pintu. Kerikil di
halaman terasa panas menembus sol sepatu. Tody berjalan tergegas melintasi
halaman terbuka agar secepatnya tiba di bawah kerindangan pohon penaung.


"Kalau ada yang bertanya, bilang saja sudah aku izinkan." Siapa "aku" itu?
Apakah dia kira setiap orang sudah mengenalnya? Atau dia memang terkenal di
kampus ini? Ya, mungkin aku yang tak mengetahuinya. Tentunya dia punya
kedudukan penting dalam kepanitiaan sekarang.


***
Penting atau tidak, sekarang tak jadi soal. Kesulitan mulai muncul. Biang
penyakit itu datang.


Seorang mahasiswa senior terlihat makin dekat oleh Irawati. Johan,
mahasiswa tahun kelima. Lelaki ini sangat getol mendekati cami-cami. Boleh
jadi, dia sangat percaya bahwa gadis-gadis akan takluk memandang senyumnya
yang mirip senyum Omar Sharif.


Irawati mengenalnya sebab pacar Johan dulu indekos di seberang rumahnya,
Dan, Irawati juga tahu putusnya hubungan Johan dengan pacarnya. Apa
penyebabnya, dia kurang jelas, Cuma, tindak-tanduk lelaki itu membuat
Irawati mual. Ada kesan bahwa Johan tak segan-segan menggunakan
kekuasaannya untuk mencapai maksud hati. Lelaki itu agresif sekali. Nampak
sekali tanda-tanda bahwa dia memang berniat mendekati Irawati.


Irawati berusaha membalas senyuman lelaki itu.


Johan berdiri di pintu.


"Kau sakit?" tanyanya.


Irawati mengangguk.


Johan meneliti seluruh ruangan. Ketika matanya singgah di meja Tody, dia
bertanya. "Mana Tody?"


O, kalau begitu si Dingin itu bernama Tody, pikir Irawati. "Mana ketua
panitia itu?" tanya Johan sembari mengembalikan tatapannya pada Irawati.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Irawati mengangkat bahu. Aduh, ulangi lagi gerak macam itu, kata hati
Johan. Alangkah indah gerak bahu yang kemanja-manjaan itu. Dan, matanya
yang hitam bersorot-sorot seperti akan merajuk; bibirnya yang siap-siap
melekuk memiliki magnit, membuat siapa saja kepingin memeluknya,
membujuknya dan menciumnya. Wah!


"Ada apa dengan Mas Tody?" kata Irawati. Sekejap tadi dia mendapat cara
untuk menghadapi Johan.


"Kau kenal dia?" tanya lelaki itu.
Irawati mengangguk. Lalu senyum. Senyum itu dibuat malu-malu. Maka Johan
merasa dagunya gatal, dan dia mengusap-usapnya. "Kenal baik?" tanyanya
lagi.


Irawati menunduk lebih dalam, dan senyumnya lebih samar.
Ah! Johan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Lalu dia
bersiul. Lagunya tak menentu. Dari sepotong lagu Beatles ke lagu Melayu.


Dia mondar-mandir di seputar ruangan. Membuka spanduk yang tergulung,
membacanya, lalu menggulungnya kembali.
"Kalau sakit, kau boleh pulang, Ira."
Irawati diam.
"Biar kuantar," lanjut Johan.
Tak ada reaksi.
Johan melongok melalui jendela.
"Hei!" teriaknya membelah panas.
Seorang cama berhenti dan menoleh takut-takut.
"Mana atributmu, he?"
Cama itu gelagapan. Dalam hati dia mengutuki dirinya sendiri lantaran telah


lewat di dekat kantor itu.


"Kau tahu atributmu itu tidak boleh pisah dari badanmu? Itu lebih berharga
dari nyawamu. Mengerti?"
Cama itu mengangguk dengan takzim.
"Sekarang jelaskan kenapa kautanggalkan atributmu itu!"
"Saya.... jatuh ke selokan tadi, lalu diizinkan mandi sebentar."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Hm." Johan seperti kucing yang mengawasi tikus yang menggigil di depannya.


"Sekarang ambil nyawamu itu. Cepaaat! Kuhitung sampai lima kali!"
Cama itu lari terpontang-panting. Johan mengurut-urut lehernya. Berteriakteriak
di bawah sungkupan udara yang panas sesungguhnya telah membuat
tenggorokan mau pecah. Dia tersenyum menyaksikan kepala plontos yang
berlari di lapangan itu.


Dia berbalik, dan merasa dirinya he-man. John Wayne, Richard Burton, atau
siapa saja yang hebat-hebat, itulah dia! Tetapi, matanya terbentur ke meja
Tody. Dan, berkisar sedikit kepada Irawati yang sedang memperhatikannya.
Gadis itu menatapnya hambar. Seorang gadis melihat Richard Burton atau Omar
Sharif selayaknya mengagumi. Tetapi, gadis yang berpakaian lusuh dengan
atribut Mapram ini sama sekali tak mengaguminya. Sialan!


"Sudah lama kau kenal Tody?" katanya kemudian.
"Ya, lumayan lama."
"Sejak kapan?"
"Entahlah. Pokoknya sebelum Mapram ini."
"Pacarmu?"
"Ah!" Irawati mengusahakan agar ketersipu-sipuan lebih kentara di wajahnya.
Johan mengetok-ngetok meja dengan irama gendang lagu Melayu.
Irawati membuka-buka halaman "buku suci" miliknya. Dari luar semayup


terdengar suara nyanyian cama-cami.
"Ayolah, kuantar kau pulang, Ira."
"Waaah," Irawati melirik meja Tody.
Johan mempergendang meja lagi.
"Selama ini dia yang mengantarmu pulang?"
Irawati tak menjawab. Dia cuma tersenyum simpul.
"Pantas kau menolak terus." Johan menggaruk-garuk kepala lagi.
"I’m sorry," kata Irawati.


"Kok nggak dari dulu kaubilang?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Irawati mengipas-ngipaskan buku sucinya. Terdengar cericit burung gereja di
bawah atap, serta gelepar-gelepar sayapnya yang menerjang-nerjang pinggiran
atap. Bahkan burung gereja pun merasakan teriknya matahari sekarang,
merasakan kepengapan udara.


Maka Johan beranjak dan berkata. "Ah, panas sekali. Aku pergi dulu."


Irawati menahan senyumnya. Sementara lelaki itu melintasi halaman yang
panas, Irawati hampir tak bisa menahan keinginannya untuk tertawa.


***


Johan merambahi semak setinggi betis. Dia berjalan melintasi di bawah
perlindungan pohon cemara. Diam-diam Tody rupanya sudah menggarap bunga
itu, pikirnya. Tapi, kapan dilakukannya? Selamanya dia sibuk mengurus
jalannya Mapram ini. Bersaingan dengan lelaki itu tak terlalu berat
agaknya. Orang yang selalu murung, bahkan ada yang bilang hatinya rapuh.
Siapa yang bilang ya? Edu, Hasan, Zul, atau Fauzi? Ya, pokok ada yang
bilang. Tody terlalu lemah sebagai lelaki. Sebagai pejuang mahasiswa,
bolehlah. Tetapi, sebagai lelaki yang harus bertarung dengan seseorang
dalam memperebutkan seorang gadis, nanti dulu. Berkali-kali dia sudah
terpuruk. Sewaktu perpeloncoan dulu, dia berdekatan rumah dengan seorang
pelonci. Mereka selalu datang dan pulang bersama. Karena persamaan nasib
mungkin, mereka menjadi akrab. Tetapi, di akhir penggojlogan, pelonci itu
digaet seorang senioren. Dan, Tody termangu.


Lalu setelah dia menjadi senioren pula. Beberapa kali merasa tertarik pada
seorang cami. Tetapi, reda begitu saja setelah perpeloncoan selesai. Tak
tahu apakah memang Tody yang tak bisa membina hubungan yang diharapkan,
atau memang gadis itu sudah punya pacar selama ini. Jadi, melayani Tody
cuma sebagai teknik pengaman saja. Biar tak kena gojlok. Kalau begitulah
keadaannya, betapa malang.


Soal Irawati ini, setahu Johan, gadis itu memang tak punya pacar tetap
selama ini. Cuma, betulkan dia sedang ada hubungan dengan Tody? Gadis
semacam itu, bagaimana bisa ketemu hati dengan Tody yang murung
berkepanjangan begitu?


Irawati! Siapa yang tak kenal nama itu. Gadis yang berdunia ceria. Tak
kenal duka. Ya, bagaimana bisa berduka! Dia punya orang tua yang menjadikan
dia bunga di rumah mereka. Dia pantang mendengarkan kata ‘tidak’ di rumah
itu. Sejak dia duduk di bangku SMA Stella Duce dulu, peminat-peminat pesta
sudah mengenalnya. Dari kuku-kuku jarinya yang terawat bagus itu sebenarnya
sudah bisa diduga, dia biasa hidup dalam kemanjaan.


Mungkinkah gadis itu bisa terikat pada seorang macam Tody? Dia hanya
mungkin ditaklukkan seseorang yang lengkap kehidupannya. Brilian, suka
pesta, tampan, dan kalau perlu: kaya.


Lalu, apa yang dipenuhi Tody? Di fakultasnya mungkin dia brilian. Tetapi,


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


dia tak suka pesta. Waktu ada pesta yang diselenggarakan Imayo atau PMKRI,
dia memang mau juga melantai, tetapi dansanya serius. Kayak dansa pastor
saja. Entah dia belajar di mana, tapi dansa serius begitu sulit cari
pasangan dalam pesta-pesta mahasiswa. Ballroom begitu perlu kursus khusus.
Payah.


Soal kemampuan, yah sebenarnya Tody sudah lumayan. Profilnya mendekati


Rendra. Cuma, Tody lebih hitam. Bisalah dia dibilang berprofil manis.
Mungkinkah Irawati - gadis yang seceria burung parkit, melompat dari dahan
bunga yang satu ke bunga yang lain - diikat Tody? Kalau mungkin, itu
namanya bukan main. Keraguan masih ada. Tetapi, Irawati sendiri sudah
mengatakannya. Lalu apa lagi? Ah, siapa tahu itu cuma akal licik gadis itu!


Johan menepuk-nepuk pahanya sembari berjalan. Di sela-sela rumpun bunga dia


bersiul. Entah kenapa, sehari itu dia senang menyiulkan lagu Melayu.
Dia melihat Tody meninggalkan lapangan tempat acara Mapram dilangsungkan.
Dia menantinya di dekat batang pohon petai cina yang rindang.


Tody mengusap tengkuknya yang dibasahi keringat.
"Semua lancar?" tanya Johan.
"Yah."
Mereka berdiri berendeng mengawasi gerombolan cama-cami di lapangan.
"Kau sudah dapat cewek," kata Johan.
Tody mengernyitkan kening.
"Hebat kau," lanjut Johan tanpa mengalihkan matanya dari cama-cami. "Sudah


lama kaudapatkan dia?"
Tody mengemyitkan kening lebih dalam lagi.
Malahan kini menatap Johan dengan pandangan bertanya.
Johan masih mengawasi perlombaan olah raga di kejauhan.
"Dia bilang, kalian berkenalan sebelum Mapram ini. Di mana kaukenal dia?"
Tody cuma menggumamkan kata yang tidak jelas.
Akhirnya Johan menatapnya. Dia melihat kerutan kening Tody.
"Aku ketemu dia di kantor panitia," kata Johan. "Kenapa selama ini kau tak


pernah cerita? Banyak yang mengincar cewek itu. Kau mesti hati-hati
menjaganya."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Tody membisu. Lamat-lamat dia bisa menduga siapa yang dimaksudkan Johan.
Tetapi, dia tetap diam. Cuma, hatinya menduga-duga. "Bagaimana Johan bisa
mengira begitu?"


Mereka bertatapan agak lama. Tody merasa permen karet yang dikunyahnya
mulai terasa hambar. Lalu dia ludahkan, dan katanya. "Bagaimana rencana
program antarkampus itu?"


"Sedang kontak dengan lima universitas besar."
"Hm." Tody kembali memperhatikan cama-cami di bawah matahari.
"Kabarnya kau sudah mengikuti coaching untuk Bimas?" kata, Johan.
"Ya."
"Kapan berangkat?"
"Entah. Tergantung program universitas."
"Wah, enak. Aku kepingin sekali ikut-ikut turun ke desa."
"Kau ‘kan sastra Inggris. Mau mengajar orang-orang desa berbahasa Inggris?


Bimbingan masal bahasa Inggris? Wah, bukan main! Untuk meningkatkan
turisme...."


"Jangan sinis dong."
Tody menyusut daun petai cina dari rantingnya, lalu menaburkan daun-daun
halus itu ke tanah. Daun-daun itu berserakan di semak.


"Masih lama acara universitas ini?" Johan bertanya.


"Sehabis pertandingan olah raga itu, mereka akan kembali ke fakultas
masing-masing."
"Good. Aku mau pulang dulu. Lapar. Makanan yang disediakan panitia tak bisa


memancing seleraku."
"Ah, borjuis kau!"
Johan berialan ke timur melompati sebuah selokan, berjalan di aspal panas


sebentar, melewati celah pagar kawat agar lebih dekat ke penitipan sepeda.
Dia mengambil sepeda motornya.


***
Apel sore itu di bawah matahari yang menyisakan panasnya dari siang. Johan
memeriksa barisan cama-cami. Dia terkenal sebagai senior yang galak. Maka


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


seluruh barisan menjadi hening. Hanya sepatu Johan terdengar bersentuhan
dengan kerikil. Dan, tiba-tiba. "Hei, kau! Maju!"
Cama yang ditunjuk Johan maju takut-takut.
"Cepat!"
Cama itu melangkah tergesa.


"Kau berani berdiri di depanku!?"
Seluruh cama-cami berdesak dalam resah yang tersekap. Sementara itu, cama
yang tadi ditunjuk oleh Tuan Besar Johan duduk di pasir dalam ketakutan.


"Kau tahu apa dosamu?"
Cama itu terdiam memikir-mikir.
"Jangan pakai otakmu. Kau belum berhak menggunakan itu. Pakai matamu!


Periksa seluruh hartamu!"


Cama itu tambah gemetar. Dia lupa membawa kaleng susunya yang biasa
dipukul-pukul dengan irus.
"Seluruh regu orang berdosa ini maju!"
Irawati ada di antara regu yang melangkah pelahan itu. Johan berdiri


seperti koboi yang menunggu lawan duel. Mata separo terpicing menatap
barisan kecil yang berjalan bagai prosesi ke pemakaman. Cama-cami itu
menapak dengan perasaan mendekati pintu kesengsaraan.


"Inilah contoh regu yang buruk!" teriak Johan.
"Tidak punya solidaritas regu. Membiarkan rekannya berbuat dosa." Mata


Johan menyambar-nyambar setiap anggota regu. Dan, Irawati menggigil
menerima sambaran mata yang mirip mata anjing jahat itu.
Suara sepatu Johan berderik-derik di kerikil. Hening. Maka Irawati ingat


film-film koboi. Persis suara sepatu yang berderik-derik di jalan yang
lengang, di tengah kota yang mati akibat teror sang bandit. Tangan agak
renggang, waspada untuk menembak kapan saja ada gerak yang mencurigakan.


Di sini tak ada yang mencurigakan. Yang ada hanyalah ketakutan cama-cami.
Lalu Johan berkata keras. "Untuk memupuk solidaritas, kalian harus menerima
hukuman secara kolektif!"


Regu cama-cami itu berdesah. Satu-dua orang mengeluh.
"Diam!" teriakan Johan membahana.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Irawati melihat garis kejam di sudut bibir lelaki itu. "Push-up dua puluh


kali!"
Push-up ? Sungguhkah ini? Irawati berpandangan dengan teman-teman
seregunya. Kesemuanya murung. Irawati ingin menangis. Inilah hukuman yang
paling kejam. Push-up dua puluh kali, betul-betul tak terbayangkan.


"Tunggu apa lagi? Ayo, mulai!"
Anggota regu itu mulai bertiarap. Dan, Irawati bingung sebab dia masih


berdiri di tengah-tengah rekan-rekannya yang sudah tengkurap. Kini seluruh
mata tertuju padanya.
"Saya.... saya.... tidak bisa push-up," katanya terbata-bata.
"Well." Suara Johan sinis.
"Saya.... saya...."
"Lalu, hukuman apa yang Anda inginkan?"
"Apa saja, asal bukan push-up."
"Lari mengelilingi lapangan tiga kali?"
"Oh!" Jantung Irawati terperangah.
"Ayo! Jangan sampai teman-temanmu capek tengkurap begitu."
"Saya tak bisa.... Saya tak bisa...."
"Kenapa yang lain bisa?" Johan menunggu kalau-kalau gadis itu minta


dispensasi. Lalu akan dipertimbangkan nanti.
Adapun Irawati, dia melihat kekejaman seorang pengecut di mata lelaki itu.


Maka dia muak untuk meminta-minta belas kasihan. Belas kasihan dari seorang
pengecut? Phuih! Kalau tetap membangkang, apa sih yang bisa diperbuatnya?
Irawati tetap berdiri. Malahan kini dengan sikap menantang.
Johan tersenyum, lalu beranjak dari tempatnya dan kembali memeriksa


barisan. Dia biarkan regu cama-cami yang tengkurap itu tetap dalam posisi
semula.


Irawati menatap kepala-kepala plontos dan pita kucir rekan-rekannya.
Dari jauh Johan berteriak. "Sebelum hukuman dilaksanakan, cama-cami tidak
boleh bergerak!"


Suara itu bergema oleh pantulan dinding fakultas. Irawati mengitarkan


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


matanya ke seluruh tempat. Dan, pandangannya membentur dengan mata yang
menuntut. Gadis itu merasa seluruh jaringan tubuhnya menjadi dingin. Dia
merasa setiap orang mempersalahkannya.


Oh, apakah yang sedang terjadi di sini? Kenapa semua manusia di sini
menganggap kesewenang-wenangan sebagai sesuatu yang wajar? Tak sekelumit
pun nampak tanda-tanda mereka menolak hukuman yang tidak adil itu. Malahan
mereka mempersalahkan orang yang menentang kesewenang-wenangan itu.


Mereka mempersalahkan Irawati. Mempersalahkan gadis yang berdiri tegak
sementara rekan-rekan yang lain tengkurap. Beberapa di antara mereka yang
tengkurap itu mulai mengeluh. Mereka kejang dalam sikap seperti itu
berlama-lama. Keluhan mereka terdengar oleh Irawati.


Tetapi, kenapa mereka justru mengutukku? Kenapa mereka tidak mengutuk
senioren yang menjatuhkan hukuman tidak adil itu? Oh, apakah yang sedang
terjadi di sini, di tengah-tengah orang-orang yang bakal menjadi mahasiswa
ini? Mereka menerima hukuman apa pun yang dijatuhkan terhadap mereka tanpa
perlawanan.


Irawati menelan ludahnya yang seret. Pahit. Mual. Kepala plontos dan rambut
terkucir yang tiarap di kiri-kanannya bagaikan melekat di ujung batang
pohon pisang. Dan, wajah-wajah yang menatapnya, wajah-wajah yang
berkeringat, bukan lagi berkulit sebagaimana lazimnya manusia. Dia melihat
wajah-wajah yang berkulit tegang seperti topeng-topeng Bali. Menyeringai.
Dan, udara menguapkan sari-sari kemualan. Yang terlihat oleh Irawati hanya
topeng-topeng Bali, warna-warna kuning, kuning, kuning, merah, merah,
merah, campur-aduk. Pijar-pijar lampu seribu watt menyergap-nyergap ke
matanya dari biasan matahari yang bergeser ke barat.


Dia merasa tanah kian labil. Seratus sekian pasang mata yang melotot ke
arahnya, juga topeng Bali yang menyeringai itu, semakin mengelabukan
pandangan gadis itu.


"Ayo!" Teriakan menggelegar dari mulut senioren Johan. Tanah bergoyang.
Pening. Gelap. Lebih gelap, dan Irawati jatuh.


Untuk kedua kalinya hari itu mahasiswa-mahasiswi senior kalang-kabut.
Apalagi melihat piasnya wajah gadis itu. Bibir mungil serta hidung yang
bangir itu mau tak mau menimbulkan rasa iba. Wajah yang kurus menimbulkan
kesan betapa berat penderitaan gadis itu sekarang.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Johan berjalan mondar-mandir. Kenapa dia tidak minta dispensasi, pikirnya.
Kenapa dia tidak merengek-rengek sebagaimana laiknya gadis-gadis manja?


Johan suka melihat kemanjaan gadis itu. Gerak aleman selamanya menyenangkan
untuk dipandang. Malahan menimbulkan keinginan untuk menggodanya, biar dia
terus merengek.


Tapi, dia membangkang lantaran pacarnya ketua panitia! Bah! Pacar tinggal
pacar. Tetapi, penegakan disiplin itulah soalnya.


Irawati dibopong beberapa senioren ke kantor panitia. Johan kembali
menghadapi regu yang tetap tengkurap.


"Sekarang mulai!"


Di kantor panitia, Widuri sedang menyelesaikan laporan-laporan seksinya.
Dia separo melamun menatap nanap lewat jendela yang terbentang. Tanpa sadar
dia menggigit-gigit pangkal ballpoint-nya. Suatu kebiasaan - yang kalau dia
sadar - dia ketahui kurang baik. Konon kebiasaan itu menunjukkan gejala
jiwa yang tidak kokoh. Entah siapa yang bilang, sarjana atau dukun, dia
kurang ingat. Tetapi, pokoknya dia selalu berusaha menghilangkan kebiasaan
itu.


Giginya yang rata mengintai-intai dari balik bibirnya. Bibir tanpa lipstik,
tetapi agak kemerahan.


Sesungguhnya gadis yang sedang melamun itu cantik juga, pikir Tody yang
sejak tadi diam-diam mengawasi dari sudut ruangan.


Dan, sesungguhnya pula gadis itu sedang memikirkan Tody. Lelaki yang tahan
membisu itu, kenapa begitu kaku? Tahun-tahun yang lalu, dia masih mau
mendekati cama-cami. Tetapi, sekarang dia seperti dewa yang jauh dari


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


kebisingan Mapram.


Barangkali dia ingin membentuk image-nya sebagai pemimpin mahasiswa yang
angker. Pemimpin besar yang tidak terlibat dalam urusan-urusan kecil. Atau,
barangkali dia sudah punya pacar? Ya, siapa tahu!


Widuri menghela napas panjang-panjang. Tody meliriknya. Widuri mengemasi
berkas-berkas kertasnya, dan katanya, "Juri untuk perlombaan nyanyi masih
belum lengkap."


"Ooo." Datar suara Tody.


Widuri mengangkat kepala seraya berkata. "Kapan itu diurus?"


"Ya? ‘Kan sudah ada yang bertanggung jawab? Seksi perlombaan."


"Entah di mana dia. Mungkin ngurusi cewek-cewek."


"Nanti akan diselesaikannya. Biasa, langgam kerja mahasiswa memang sering
begitu. Rileks saja."


"Tapi, kalau sampai saat terakhir jurinya tidak lengkap?"


"Aaah, mesti lengkap. Dia akan mengurusnya."


"Mas Tody terlalu optimis."


"Pengalaman mengajarkan padaku, tak perlu terlalu serius. Makin serius,


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


makin gampang panik. Apalagi menghadapi mahasiswa. Mereka suka kerja
seenaknya. Kayak seniman. Tapi, percayalah, pada titik terakhirnya mereka
akan menyelesaikannya."


"Tapi, biasanya acak-acakan," kata Widuri.


"Kalau mau rapi, pegawai atau tukanglah yang harus mengerjakannya."


Widuri menghembuskan napas keras-keras. Tody tetap duduk melengut seperti
sapi kekenyangan. Matanya tak acuh, malahan setengah mengantuk. Cahaya
merah dari barat menerobos lewat celah pohon cemara.


Dan, gadis yang pingsan itu dibopong ke kantor itu. Widuri bangkit tergesagesa,
merapikan divan untuk pembaringan gadis itu.


Mahasiswa-mahasiswa senior yang membopong keluar. Kini tinggal seksi
kesehatan yang mangusap-usapkan wewangian, entah apa namanya. Widuri
mengipasi gadis itu.


Tody membenamkan tubuhnya ke dalam kursi plastik. Kepingin tidur. Tetapi,
tunggu dulu! Gadis yang pingsan tadi siang? Tody bangkit. Ya, dia.


Kalau dua kali pingsan dalam satu hari, ini sudah patut menjadi urusan
dokter. Bisa-bisa pingsan yang ketiga kalinya terus koit. Berabe! Urusan
polisi jadinya. Maka Tody lebih beperhatian.


Gadis itu nampak langsing dengan slack-nya. Wajahnya yang pucat-lesi serta
bibirnya yang menggurat dalam garis tipis itu cuma menggambarkan
kesakithatian. Manusia semacam dia ini, bisalah dikategorikan mungil.
Wajahnya kecil. Mungkin lantaran rambut yang disisir terbelah di kepalanya,
juga pita-pita kecil itu. Senja kian temaram. Irawati mengeluh halus.
Manakala kelopak matanya terangkat, wajah Widurilah yang terpandang
olehnya. Dan, senyum lunak gadis yang berkulit sawo matang itu menyejukkan.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Mbak," keluh cami itu.


Widuri mengelus kening gadis itu, dan Irawati menangis.


Seperti film India, pikir Tody. Lalu dia kembali duduk.


"Dia perlu istirahat," kata Kamal, mahasiswa kedokteran yang sedang koskap.


"Perlu tonikum agaknya dia," kata Tody.


"Jantungnya agak lemah."


"Wow! Sebaiknya dia tidak ikut Mapram."


"Nggak apa-apa. Dia bisa mengikuti terus. Bukan sakit jantung."


"Yang benar aja, Mal. Sudah bab jantung pelajaranmu?"


"Asu! Tentu saja sudah."


"Yah, asal diagnosamu benar saja. Kalau ada apa-apa, ‘kan aku yang diangkut
polisi. Malah mungkin dilaksuskopkamtibkan."


"Tak apa-apa. Tak apa-apa."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Hm, gayamu sudah memper dokter."


"Dan, kau? Gayamu sudah mirip pencatut lisensi."


Widuri tak sabar mengikuti pembicaraan itu.


"Tak diberi obat dia, Mas Kamal?"


"Obat apa? ‘Kan dia sudah sadar?"


"Jadi, cuma begitu?"


"Lha bagaimana lagi? Dia cuma capek. Ya, kasih tablet vitamin C saja. Biar
marem." Kamal beranjak ke pintu keluar. Widuri cuma bisa menggeleng-geleng.


"Tak perlu disuntik?"


"Suntik apa? Dia ‘kan sehat? Atau, kau mau tetrasiklin?"


"Apa itu?"


"Tanya Tody. Dia tentunya sering pakai kalau habis...."


Tody terheran-heran.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Kamal terbahak terus keluar.


"Gila kau! Bajingan!" seru Tody.


Bayangan pohon cemara telah samar dalam senja. Burung gereja ramai
mencericit di pinggir-pinggir atap. Di sana, Gedung Induk Universitas
Gadjah Mada yang bertingkat tiga terpacak diam-diam. Lampu-lampu sepanjang
Bulaksumur Boulevard yang membelah kampus telah menyala. Sinarnya redup.
Pohon flamboyan di pinggir jalan tak kentara lagi sebagai pohon yang
berbunga indah. Hanya nampak sebagai onggokan dedaunan hitam, sekarang.


Ruang kantor panitia itu sepi. Widuri kembali melamun. Irawati duduk diamdiam
di dekatnya. Tody menatap ujung kakinya yang terletak di atas meja.
Lama.


Sampai akhirnya seorang mahasiswa senior memanggil Widuri. Urusan
kepanitiaan. Irawati melihat kelamnya malam kian kentara di luar.


Ruangan itu tetap sepi. Tody tetap sebungkam batu gunung. Maka Irawati yang
biasa berkicau bagai burung itu kini harus mengatupkan mulutnya rapatrapat.


Bagaimana menggeser batu gunung yang dingin itu? Irawati menaksir-naksir.
Aku, pikirnya, yang punya senyum sebagus senyum Widyawati ini, masakan
tidak menggoyahkannya? Masakan dia sekokoh batu cadas yang bagian besarnya
tertanam di tanah! Atau kelihatan jelekkah aku selama Mapram ini? Ya,
mungkin. Aku kelihatan lusuh. Mukaku berkeringat. Seandainya dia melihatku
sebelum Mapram ini, potong telingaku: dia pasti tertegun. Dia akan melihat
wajah yang melankolis. Ya, wajah aristokratik. Yanuar atau Bobby, pokoknya
salah satu dari mereka, pernah bilang bahwa aku adalah Cleopatra yang
muncul diam-diam pada abad modern ini. Cuma, barangkali aku lebih kurus.
Liz Taylor jadi Cleopatra dengan tubuh yang lebih berisi. Tapi, itu tak
jadi soal. Tubuh-tubuh ceking malah lebih feminis sejak Twiggy muncul.
Kubaca itu di majalah Aktuil.


Seandainya dia melihatku dalam pakaian biasa, bukan dalam pakaian Mapram


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


yang terkutuk ini! Masakan matanya tak bergerak hidup? Masakan matanya
tetap sedingin itu? Kayak mata Peter Moole atau Robert Mitchum. Orang
bilang: mata pengisap ganja. Atau barangkali dia pengisap ganja? Tapi,
kenapa tidak pernah kukenal? Barangkali dia masuk groupies lain? Tapi, ah,
tak mungkin. Dia tokoh mahasiswa. Tak mungkin ikut-ikut groupies. Andaikan
dia masuk groupies-ku, bukan main.


Dia bisa jadi pemimpin. Ah, Bob Mitchum itu! Pasti groupies kami terkenal.
Apalagi kalau dia suka lagu-lagu Bob Dylan. Bukan main!


Irawati menggigit-gigit ujung kukunya sambil menaksir-naksir terus.
Bagaimana cara menggoyahkan batu gunung ini? Bagaimana cara menggesernya?
Biar dia tahu siapa Irawati sebenarnya. Biar dia tahu bahwa Irawati bukan
seorang yang tidak bernilai. Irawati adalah kumpulan api yang membakar.
Irawati adalah gadis yang pada usia 13 tahun sudah pacaran. Bahkan waktu
SMP pernah membuat mata gurunya blingsatan sebab jatuh cinta kepadanya. Dua
tahun yang lalu dia pernah menjadi penyebab perang antara SMA III melawan
SMA-Bopkri. Irawati pun pernah membakar api perang pada banyak hati lelaki.


Lantas sekarang, apakah harus terbentur pada batu ini?


"Rumah Mas Tody di mana?"


Jidat Tody berkerut. Makin mirip Peter O’Toole, pikir Irawati, sedangkan
Tody berpikir, "Apa-apaan ini?"


Tadi sambil lalu ia menanyakan siapa teman gadis itu pulang. Tetapi,
jawabnya, pertanyaan itulah. Maka Tody terdiam. Kenapa anak ini seberani
itu? Cama-cami memandangku seperti dewa. Gadis ini, lain yang ditanyakan,
lain pula jawabannya.


Kalau ada senioren lain, pastilah cami ini dibentak-bentak disuruh meminta
maaf.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Tody keluar tanpa memandang gadis itu. Jaringan urat-urat tubuh Irawati
mengejang. Marah. Diperlakukan seperti itu, dadanya menjadi sesak. Tetapi,
oleh karena udara yang dihirupnya berasal dari malam yang dingin, maka
kemarahan itupun mengendap. Surut.


"Mas!"


Tody berhenti.


"Saya tak punya teman pulang."


"Oh, ya?"


Irawati mengangguk kuat-kuat. Khawatir anggukannya tak terlihat dalam
kelam.


"Biasanya, siapa temanmu pulang?"


"Tadi.... tadi dia tidak datang," kata gadis itu. Dan, dalam hati dia
berdoa, "Janganlah diusut siapa yang tak datang itu." Lalu lanjutnya, "Dia
sakit sejak kemarin."


"Hm." Gumaman lelaki itu membuat jantung Irawati takut berdenyut.


"Kautunggu di sini. Akan kusuruh salah seorang temanmu mengantarmu pulang."


Bahu Irawati tertekuk. Tolol kau! Tolol kau! Tolol! Goblok! Bego! Dan,
gadis itu mengumpulkan sumpah serapah dalam hatinya. Lalu menyebut-nyebut
Tuhan. Ya, kenapa ada lelaki setolol ini? Apakah aku sudah menjadi begitu
buruk? Apakah aku sudah tak bisa lagi menarik hati lelaki? Ya, Tuhan,


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


alangkah terkutuknya Mapram ini. Jika sampai merusak diriku, jika membuat
diriku kehilangan pesona yang selama ini ada, nerakalah Mapram ini.


"Saya tak mau diantar cama!" Suara Irawati tinggi.


"Eh?" Tody berbalik.


"Saya tak mau diantar cama!" ulang gadis itu lebih keras.


"Mau pulang sendiri? Itu tak baik Non."


"Mas Tody..." Hampir dalam rengekan suara gadis itu, "Saya tak mau diantar
cama. Mereka suka ambil kesempatan dalam kesempitan."


"Eh?"


"Saya tidak mau!" Lebih merengek gadis itu.


"Kalau begitu, akan diantar salah seorang anggota keamanan."


"Tidak, tidak, tidak!" Lebih histeris gadis itu.


Apa-apaan ini, pikir Tody. Apa gerangan yang telah dialami gadis ini
sesiang tadi? Dia sampai dua kali pingsan. Barangkali dia mengalami
kejadian-kejadian gawat selama Mapram ini. Barangkali ada yang menakutkan
dirinya. Soal apa?


"Kenapa kau tak mau juga diantar keamanan?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Saya takut! Saya takut!"


Dan, menghadapi rengekan ini, terbersit ingatan Tody pada adiknya di Nusa
Tenggara Timur. Yang jauh di sana. Gadis kecil yang telah lima tahun
ditinggalkannya. Tentunya dia sudah sebesar cami ini. Surat terakhir dia
mengatakan bahwa dia masuk Universitas Hasanudin. Tentunya dia sedang di-
Mapram sekarang. Barangkali dia juga pingsan.


Barangkali dia juga mengalami ketakutan.


Tody lebih memperhatikan cami itu. Oh, dia merasa sedang melihat adiknya.
Margriet, adiknya, weta-nya sayang. Masih SMP waktu ditinggalkannya dulu.
Sebagai seorang kakak dia menyesal tidak bisa mengikuti perkembangan gadis
kecil itu. Margriet juga kurus. Rambutnya sering dikepang. Berkulit hitam
manis. Pastilah sekarang langsing dan punya senyum yang menawan. Pastilah
dia diganggu senior-senior di universitasnya.


Gadis mungil yang di depannya masih menatap penuh harap. Tody mengingatingat
tindakannya selama menjadi senioren di Gadjah Mada. Maka terbayang
gojlogan rekan-rekannya terhadap cama-cami. Memang ada yang keterlaluan
kerasnya.


Ah, Faraitody, adikmu di universitas yang jauh di sana juga sedang
digojlog. Di sini kau memang ketua, dewa yang dipertuan cama-cami. Tetapi,
adikmu....? Ah!


Tody menghela napas dalam-dalam, dan menatap lekat-lekat gadis itu. Gadis
itu membalas menatap, dengan matanya yang mirip mata kelinci.


"Akan kuantar kau nanti," kata Tody. Kemudian dia melangkah meninggalkan
kantor itu. Setelah belasan langkah, dia berkata lagi, "Tunggu saja di
situ!"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Dan, dia lenyap dalam kelamnya malam.


Sementara itu, Irawati hampir tertawa terkekeh-kekeh. Ternyata batu itu
kayak tanah liat, kata hatinya. Ini rintisan pertama. Berikutnya, akan
kubuat dia bertekuk lutut di kakiku. Harus kubuat dia menyatakan, "Ira
Sayang, aku mencintaimu."


Lalu, aku harus mempertimbangkan. Harus melengos atau menerima tangannya
yang terulur itu. Nah!


***


Jalanan lengang. Di becak yang meluncur, Tody tetap ingat adiknya.
Margriet, yang merajuk jika tak dituruti keinginannya. Sering dulu - waktu
Tody masih di bangku SMA - gadis kecil itu ditempelengnya. Kadang hanya
karena kesalahan kecil. Gadis itu membongkar susunan buku-buku Tody sebab
dia senang melihat potret-potret kota di Jerman, India, atau kota besar
lainnya. Betapa kejam dia terhadap gadis yang masih murni itu. Lima tahun
tak melihatnya, entah bagaimana sudah perujudannya. Setahun yang lalu Tody
menerima potret keluarga mereka. Di situ Margriet telah nampak dewasa. Dia
cantik. Pastilah dia jadi rebutan para pemuda di sana.


Seperti gadis yang duduk di sampingku ini, mungkin Margriet juga jadi
rebutan para senioren. Akibatnya, dia akan mengalami perlakuan overacting
dari para senioren. Akibatnya, dia pingsan. Sampai dua kali dalam sehari.
Ah! Kenapa tak kuperhatikan dari siang tadi? Ah!


Irawati merasakan roda becak beberapa kali kejeglong di lobang. Lelaki di
sampingnya tetap sebisu arca. Lalu, seolah tak disengaja, di-sikut-nya
lelaki itu.


Tody tersentak.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Eh, maaf. Maaf, Mas Tody, maaf."


"Hm. Tak apa-apa."


"Mas Tody kok pendiam banget sih?"


"Aku pendiam?"


"Iya, Membikin orang takut."


"Kenapa takut?"


"Angker."


"Kayak hantu kuburan?"


"Ah!" Siku Irawati masuk lagi ke rusuk Tody.


Tody membiarkan siku yang kecil itu bersarang di pinggangnya.


"Kenapa sih kau gampang pingsan?" tanyanya.


"Habis, Kakak-kakak Mahasiswa mengerikan."


"Siapa?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Semua."


"Ah, masak. ‘Kan ada yang baik."


"Tidak ada yang baik. Semuanya kejam!"


"Mungkin kau yang banyak tingkah."


"Banyak tingkah bagaimana?"


"Aleman. Manja."


"Siapa bilang?"


Tody diam. Rantai becak berderit-derit. Irawati juga diam. Desah napas
tukang becak bercampur dengan suara ban yang bersentuhan dengan pasir.


"Siapa bilang?" ulang gadis itu.


Tody cuma menggumam.


"Kakak-kakak Senior yang sewenang-wenang. Memerintah seenaknya. Menghukum
semaunya. Masak putri-putri disuruh lari keliling lapangan. Disuruh pushup,"
kata Irawati getir.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Itu biasa. Melatih mental. ‘Kan kaum wanita sendiri yang menuntut
emansipasi! Diberi perlakuan yang serupa dengan lelaki, terus ribut. Lalu,
maunya cuma persamaan yang enak saja? Kedudukan yang enak mau sama, tapi
yang sulit-sulit ditolak. Emansipasi apa itu?"


Irawati diam. Siku tangannya masih bertengger di pinggang lelaki itu.
Membuat Tody tersudut ke pinggiran becak. Dan, ketika kejeglong lobang
besar. Tody merasa pinggangnya tersodok.


"Wah, sikumu kayak tombak," katanya seraya memegang siku tangan gadis itu.


"Habis, saya kurus sih."


"Kurus juga cakep."


"Ah!" Siku Irawati masuk lagi, tetapi ditahan oleh Tody.


"Orang-orang muda zaman sekarang ‘kan suka model ceking," kata Tody.


Irawati meliriknya. Mereka tiba di depan rumah yang dinaungi pohon mahoni.


"Di sini rumah saya, Mas. Hooop! Stop, Cak!" kata gadis itu. Rem becak
berderit, dan gadis itu melompat.


Eh, seliar itu gerakannya. Tadi seperti ayam sakit, pikir Tody.


Irawati membuka pintu pagar.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Bagus sekali taman ini," kata Tody.


Bulan bersinar penuh menimpakan cahaya pada bunga-bunga di halaman rumah
itu.


"Siapa yang merawat bunga-bunga itu?"


"Mama," jawab gadis itu. Dia menekan bel. Panjang sekali.


***


Batu Gunung yang Goyah


PAGI itu matahari di atas Kota Yogya serupa dengan matahari kemarin.
Kuning, tanpa tanda-tanda mendung. Cepat sekali mengeringkan embun-embun
yang melekat di ujung-ujung daun dan rumput. Pertanda matahari akan
memanggang bumi sesiang nanti.


Tody disambut Sartono di dekat selokan.


"Ada cami bilang, Mas Tody menyuruh dia menunggu di kantor."


"Siapa?" tanya Tody.


Sartono mengangkat bahu ke arah kantor panitia.


Irawati! Gadis itu memegang topi kerucutnya. Ah!


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Katanya Mas menyuruh dia mengerjakan sesuatu di kantor," kata Sartono
lagi.


Sebenarnya Tody sudah ingin menggeleng-geleng. Dia heran memikirkan
keberanian gadis itu. Entah bagaimana bisa timbul inisiatif gadis itu untuk
mengarang kibulan macam itu.


Dada Irawati berdebar-debar manakala melihat kerutan di kening Tody.
Sartono merendengi langkah Tody. Gadis itu tertunduk di bawah tatapan mata
kedua lelaki di depannya.


Tody masih menimbang-nimbang. Jika dia mentolerir tindakan ugal-ugalan
gadis ini, berarti dia melanggar prinsip yang harus ditegakkan. Tetapi,
untuk menghukum gadis ini, sampai hatikah dia? Menghukum gadis yang bermata
hitam dan berpipi agak cekung ini? Gadis yang memiliki mata yang minta
ampun ini?


Tody menghela napas dalam-dalam. Lalu katanya. "Nanti saja kemari.
Sekarang, antarkan dia, Ton. Biar diabsen dulu."


Irawati membungkuk hormat, kemudian berjalan meninggalkan kantor itu.
Setelah gadis itu beberapa langkah jauhnya, Sartono bertanya. "Siapa dia,
Mas?"


"Adiknya teman," kata Tody datar.


Langkah gadis itu berayun, dan goyangan bahunya seperti goyangan bahu anak
lelaki. Gaya gadis-gadis manja sekarang. Yang gadis melelaki. Kecenderungan
uniseks barangkali.


Tody mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu masuk ke kantornya. Widuri di


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


ruangan itu. Dalam kombinasi pakaian biru dan putih itu, dia terlihat rapi.
Seperti Bu Guru. Bu Guru yang tak cerewet tentunya. Wajahnya yang bertipe
kejawaan, lembut dan anggun, sangat serasi dengan sikapnya yang tidak
berbicara.


Dia tahu, tidak akan ada ucapan selamat pagi dari mulut Tody. Dan, dia pun
tak mengucapkan apa-apa. Mereka berdiam-diaman. Tody menempati mejanya, dan
Widuri di sudut lain ruangan itu.


"Mas Tody," kata seorang anggota panitia, "ini rencana anggaran pengeluaran
seksi saya."


"Oh, ya? Sudah disesuaikan dengan pesan bendahara?"


"Ya. Tinggal disposisi, Mas."


Tody menandatangani konsep yang disodorkan. Anggota panitia itu keluar.


Widuri mengawasi punggung lelaki itu hingga jauh. Kemudian dia mengalihkan
pandangan ke Tody. Mereka bertemu pandang. "Kenapa begitu gampang Mas Tody
tanda tangani?" kata Widuri.


"Apa salahnya?"


"Angka-angkanya belum diteliti."


"Aku percaya padanya."


"Kalau tiap orang seperti Mas, memang tak jadi soal."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Maksudmu?"


Widuri tak menjawab. Dia kembali menekuni berkas-berkas di mejanya.


"Masakan dia mau selingkuh?" gerutu Tody.


"Siapa tahu?"


"Kalau sesama mahasiswa saja sudah mau main duit, apa jadinya kelak?"


"Tiap terbuka kesempatan, seseorang akan mengambil keuntungan untuk
dirinya."


Itulah bibit korupsi, pikir Tody. Bibit telah tersemai di perguruan tinggi.
Tentu saja sebab pendidikan universitas tak pernah diarahkan untuk menumpas
bibit buruk itu.


Tody termangu. Dan, ketermanguan itu berakhir ketika Widuri berkata, "Eh,
Adik sakit lagi?"


Irawati berdiri di pintu.


"Tidak," katanya.


"Masuklah," kata Widuri.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Segan-segan Irawati melangkah.


"Ada apa?" tanya Widuri.


"Saya.... saya...."


"Dia disuruh Mas Tody!" sahut Sartono.


"Disuruh?" Mata Widuri melebar.


Tody menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal. Tatapan mata Widuri tajam
menyeruak. Tatapan yang menuduh. Tatapan yang meremehkan. Ah, ternyata kau
serupa dengan mahasiswa lainnya. Kau bukan dewa. Kau tak lebih dari
senioren yang mau memanfaatkan kekuasaan yang secuil itu. Tak lebih! Tak
lebih!


"Ooo," kata Widuri. Dan, "Ooo" itu lebih menikam lagi. Seluruh perbawa yang
dibina Tody selama akhir-akhir ini rasanya runtuh. Buyar sama sekali.
Luluh.


Tody menatap orang-orang yang berada di ruangan itu. Sartono tersenyum
kecil. Ah, apa pula yang berputaran di kepala yang gondrong itu? Irawati
duduk menunduk. Kehadiran gadis itu telah menghapuskan segala image yang
dipunyai Tody, pemimpin mahasiswa yang giat tanpa pamrih. Ah, aktivis
mahasiswa yang berjuang dengan melupakan kepentingan diri sendiri, tetapi
ternyata mau menggunakan kesempatan "mumpung berkuasa" untuk kepentingan
diri sendiri. Pemimpin macam apa itu? Masih mahasiswa saja sudah bermental
seperti itu. Nanti, setelah terjun ke masyarakat, pastilah dia akan ber-aji
mumpung dalam porsi yang lebih besar lagi. Bah!


Terkutuklah gadis ini! Terkutuk! Membikin gara-gara saja! Tapi, tunggu
dulu. Kenapa repot-repot? Bukankah gampang sekali untuk membantahnya?
Bukankah gampang sekali untuk bilang, "Aku tidak pernah menyuruhnya!"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Cuma, bantahan itu apakah efektif? Malahan mungkin akan jadi bumerang.
Sartono atau Widuri akan menganggap diriku pengecut. Mereka tak akan
percaya andai kubilang bahwa gadis ini membikin gara-gara. Tak akan
percaya. Mereka akan menuduhku munafik nomor wahid. Berlagak sempurna
sebagai pemimpin. Berlagak bersih, bahkan kalau perlu dengan mengorbankan
gadis itu. Bah, bah, bah!


Lantaran Tody hanya bicara dengan dirinya sendiri, orang-orang di ruangan
itu tak mendengarkan sepotong pun bantahan.


Widuri menatapnya sekali lagi, lalu keluar. Adapun Sartono berkata, "Wah,
rokokku habis, Mas."


Dan, tanpa menunggu jawaban, sembari melangkah keluar dia menjumput rokok
Tody di meja.


Nah, dia pun telah berperan sebagai antek yang mengurus kepentingan
pemimpinnya, pikir Tody. Dan, perutnya mual. Lalu dia ingin marah. Yang
tinggal di ruangan itu cuma Irawati. Dia ingin menempeleng gadis itu.


Menempeleng? Ah, lihatlah wajahnya yang kurus. Wajah yang innocent. Murni.
Rambutnya yang disisir terbelah dengan kucir-kucir itu, dan mata yang
takut-takut seperti mata sapi yang digiring ke penjagalan.


Maka Tody terdiam lama, memikirkan kalimat pertama yang bisa digunakan
untuk mendamprat gadis itu tanpa terlalu menyakiti hatinya.


Irawati tetap menunduk, memperhatikan ujung sepatunya yang mengais-ngais
lantai.


"Hei, kapan aku suruh kau kemari?" kata Tody kemudian.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Saya.... saya...."


"Siapa yang mengajarimu berbohong begitu?"


"Saya.... saya...."


"Bah, jawab! Kapan aku suruh kau kemari?" ulang Tody lebih keras.


"Tidak pernah."


"Lalu, kenapa kau berani berbohong?"


"Saya takut ikut Mapram."


"Kau bisa minta surat dokter. Boleh tidak ikut Mapram."


"Saya ingin tetap di sini."


"Ngapain?"


"Tak apa-apa. Saya ingin di sini. Melihat-lihat."


"Tak ada tontonan di sini."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Irawati diam.


Tody menekan-nekan tuts mesin tik di meja. Gadis itu menarik-narik
rambutnya, kemudian bibirnya mengeluarkan suara yang hampir tanpa gerak,
"Saya ingin di sini."


"Ngapain di sini?"


‘Membantu Mas."


"Aku sudah punya banyak pembantu."


"Tapi, saya ingin di sini."


"Gila! Apa fungsimu di sini? Pajangan? Bah, kalau kau agak rapi kayak
peragawati, bolehlah. Boleh jadi hiasan kantor ini."


"Jadi, karena saya jelek maka saya tak boleh di ruangan ini?" Mata gadis
itu menantang.


"Eh, bukan begitu. Kau tidak jelek. Kau cakep."


"Jadi, kenapa saya tidak boleh tinggal di kantor ini?"


"Karena tidak boleh!"


"Iya, tapi kenapa?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Eh, mendesak-desak pula. Kau tak boleh di sini, habis perkara! Kembali ke
kelompokmu!"


"Saya tidak mau! Saya tidak mau!" Rengekan gadis itu terdengar separo
tangisan.


"Bah, menyebalkan!" kata Tody.


"Ya, saya memang menyebalkan! Semua orang membenci saya! Semua orang mau
menyiksa saya!" Dan, gadis itu mulai menangis.


Edan, pikir Tody. Dia tak tahu cara yang paling efektif untuk menghadapi
tangisan.


"Lebih baik mati, lebih baik mati!"


Antara geli dan kasihan berbaur dalam dada Tody. Masak soal Mapram saja
sampai memilih: lebih baik mati, lebih baik mati?


Tetapi, melihat isak dan segruk-segruk ingus di hidung yang bangir itu, iba
juga Tody dibuatnya.


"Jangan menangis. Nanti dikira orang aku memaksamu yang tidak-tidak," kata
Tody.


Irawati masih terisak.


"He, mau diam tidak? Kalau tidak, kulemparkan kau keluar nanti!"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Lemparkan! Biar mati, biar mati."


"Eh, edan!" Tody melihat sekeliling. Khawatir kalau ada yang menyaksikan
kekonyolan itu.


"Memang edan. Mau apa?" Tambah menantang gadis itu dalam isaknya.


"Sudahlah, berhentilah menangis. Eh, siapa namamu?"


"Tak perlu nama! Tak perlu nama! Saya tak punya harga! Oh...."


Tody tambah blingsatan. Jangan-jangan orang yang menyaksikan ini mengira
aku berbuat yang tidak-tidak. Atau, akan menuduhku memaksakan kekuasaanku
pada cami ini untuk kepentingan pribadiku. Jangan-jangan ada yang mengira
aku memaksakan cinta. Berabe!


"Diamlah, diamlah."


Untuk pertama kali dalam hidupnya di kampus itu, pertama dalam
pengalamannya sebagai aktivis kampus, dia menghadapi peristiwa sekonyol
itu. Padahal dia merasa tidak berbuat sesuatu yang buruk terhadap gadis
itu. Sekarang, gadis itu menangis bertubi-tubi. Edan!


Gadis ini barangkali terganggu keseimbangan jiwanya. Perlu dikonsultasikan
pada psikiater. Ah, tak usah psikiater. Cukup psikolog saja. Di kampus ini
banyak calon psikolog.


Tody ingat Anton, mahasiswa Fakultas Psikologi tingkat terakhir. Dia sudah
mulai praktek menghadapi kesintingan-kesintingan orang di biro-biro


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


konsultasi jiwa fakultasnya.


Maka Tody keluar. Lebih aman. Lebih baik menghadapkan gadis itu pada
psikolog. Ya, daripada pusing. Sulit memang menghadapi gadis centil. O,
pantaslah julukan gadis itu "Centil" dalam Mapram ini. Tody tak mampu
menghadapi kecentilan. Dia lebih suka dihadapkan dengan polisi yang
melarang demonstrasi daripada dengan gadis-gadis yang menangis. Gadis-gadis
memang selalu memusingkan kepala.


Irawati berhenti menangis. Dari celah-celah jari tangannya dia melihat
tubuh Tody yang makin menjauh. Dan, dia tersenyum. Lalu dia memperenak
duduknya. Bersantai.


Sementara itu, Tody bergegas ke Fakultas Psikologi. Di langit, matahari
mulai menyebarkan panasnya. Sembari berjalan, Tody berpikir, ah, kenapa aku
sendiri yang menemui Anton Sinting itu? Kenapa tak kusuruh saja seorang
mahasiswa atau cama memanggilnya? Ah, rupa-rupanya aku tadi panik. Ingin
cepat-cepat melepaskan diri dari kebisingan tangis itu. Bah, tangisan
memang lebih mengganggu keseimbangan pikiran. Mendengar tembakan-tembakan
peringatan waktu demonstrasi aku tidak terganggu. Tetapi, menghadapi gadis
menangis.... wah, parah!


Dari kaca jendela, Tody melihat Anton duduk. Baru saja seorang pemuda
berkonsultasi padanya. Lalu Tody memberi isyarat, tetapi Anton malah
mempersilakannya masuk dan menyuruhnya duduk.


"Nah, apa kesulitan Anda?" tanya Anton.


"Asu! Jangan berlagak kau!"


"Eh, nampak-nampaknya Anda agak parah!"


Tody memaki dalam bahasa daerahnya, Flores. Dan, Anton tertawa mengakak.
Lalu berdiri dan mengajak Tody keluar.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Well?" kata Anton.


"Aku perlu bantuanmu."


"Soal?"


Mereka berjalan menyusuri gang di gedung universitas.


"Ada cami yang agak aneh. Dia menangis terus. Aku kira dia mengalami shock
selama Mapram ini."


"Hm. Lalu?"


"Cobalah periksa dia." Lalu, secara kronologis Tody menceritakan kelakuan
Irawati. Dari pingsannya sampai pada kebohongannya tadi.


"Eh, kasus yang menarik," kata Anton.


"Makanya kupanggil kau, biar tambah pengalamanmu sebagai dukun jiwa."


***


Anton menemui gadis itu, sedang Tody terus berjalan ke selatan, menyimpang
ke kiri dan ke Fakultas Sastra. Cama-cami fakultas itu sedang menghadapi
gojlogan dari senior-senior mereka. Johan berkacak pinggang di sudut aula.
Di depannya duduk seorang cami. Bersimpuh. Barangkali Johan mengira dirinya
maharaja. Bentakannya menggelegar hingga cami itu tersentak.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Kenapa tidak dibawa? Mau membangkang?"


"Saya lupa," kata cami itu. Kepalanya tertekuk. Lehernya bagai tak
bertulang.


"Nanti sore harus kaubawa. Mengerti?"


Gadis itu mengangguk dalam-dalam, dan Johan meninggalkannya. Lalu mendekati
Tody. Tody memperhatikan cami itu. Dugaannya, gadis itu tentulah calon
mahasiswi jurusan Sastra Prancis. Wajahnya mirip gambar-gambar reklame
parfum buatan Prancis. Lembut dan lonjong, dengan mata selembut mata Liz
Taylor. Bibirnya punya lekukan yang bagus.


Johan tertawa.


"Disuruh bawa cacing saja sudah sulit. Belum lagi mencari fosil," katanya.


Tody mengalihkan matanya. Cami itu masih duduk di tempatnya.


"Tak kausuruh dia kembali ke kelompoknya?" kata Tody.


"Oh, ya. Hei, Cami Goblok! Kembali ke regumu!" Suara Johan mengatasi
bentakan senior lain di ruangan itu.


"Cantik," kata Tody.


"Tapi, belum menandingi Irawati," kata Johan.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Sudah ada pacarnya?"


"Ah, ente berlagak pula."


"Hei....? Maksudmu?"


"Bukan kau yang sudah memetiknya?"


"Bah, gila kau! Siapa maksudmu?"


"Itu.... yang kausimpan di kantor."


Tody tiba-tiba merasa dadanya menyenak. Lebih-lebih setelah bertatapan
dengan mata Johan yang memperoloknya. Dalam beberapa helaan napas, dia bisa
menstabilkan diri. Lalu katanya, "Gadis itu yang kumaksud."


Gadis yang barusan digojlog Johan duduk di tengah-tengah kelompoknya. Di
celah pakaian-pakaian yang lusuh dan kotor itu, kelunakan matanya tak
berkurang sama sekali.


"O, dia. Sudah."


"Siapa?"


"Anak AKABRI," kata Johan.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Bagaimana kau tahu?"


"Pernah kulihat."


"Kalau begitu, sejak lama kau mengincarnya."


"Ah, tiap cewek aku incar. Mereka mau atau tidak, itulah soalnya."


Untuk beberapa saat mereka diam. Mereka memperhatikan gadis-gadis di aula
itu. Bentakan-bentakan senioren berbauran dalam paduan yang membisingkan.


"Eh, omong-omong," kata Tody, sesaat dia melirik Johan, dan sebelum bertemu
pandang dia melanjutkan, "kau kenal Irawati?"


Johan tertawa kecil. Dia mempermainkan geretannya lima enam kali,
memperhatikan pijar-pijar batunya.


Tody maklum. Dia mengeluarkan kreteknya, dan mereka merokok.


"Kukenal," kata Johan tak acuh. Dia lebih asyik dengan asap rokoknya. Dan,
dia puas bisa membuat lingkaran-lingkaran bulat dari asap rokoknya.
"Pacarku dulu dekat rumahnya," lanjutnya.


"Bagaimana keadaan lingkungannya?"


"Hm, biasa saja."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Bagaimana yang biasa itu?"


"Ah, kau tentunya lebih tahu."


"Tidak. Aku tidak tahu. Cuma, aku merasa ada sedikit kelainan pada gadis
itu."


"Abnormal?"


"Mau dibilang ‘abnormal’, ya tidak. Tapi, yah, semacam kelainan dari gadisgadis
lain."


Johan menggigit-gigit ujung rokoknya.


"Kehidupan mewah," katanya. "Ayahnya punya perusahaan yang lumayan
besarnya. Kabarnya punya hubungan dengan salah seorang Aspri presiden."


"Hm. Itu saja?"


"Dia suka pesta-pesta. Teman-temannya banyak. Boleh dibilang, dia pusat
sentrifugal remaja-remaja elite di kota ini."


"Aktivis youth centre?"


"Uh, apa youth centre? Mana mau mereka masuk youth centre atau Pramuka
segala macam? Semacam peradaban bebas, begitulah."


"Peradaban bebas, atau liar?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Tak tahulah. Pokoknya mereka sering kumpul-kumpul dari rumah ke rumah."


"Hm, morfinis?"


"Ah, itu aku tak tahu," kata Johan.


Tody terdiam, sedang Johan mengedarkan mata ke seputar aula, mencari
sasaran bentakan. Tetapi, cama-cami berlaku tertib. Johan kehilangan alasan
untuk membentak. Maka dia mengalihkan perhatiannya kepada Tody. Masih
termangu dia.


"Terus terang," kata Johan, "aku heran, bagaimana kau bisa kenal cewek itu.
Dia bilang, kalian berkenalan sebelum Mapram ini?"


Tody tetap membisu. Johan masih menunggu beberapa saat. Lantaran Tody tetap
seperti semula, maka katanya, "Oke, aku pergi dulu."


Dari merasakan lintasan angin yang ditimbulkan tubuh Johan, barulah Tody
menyadari kesendiriannya. Lalu dia melangkah pelan-pelan keluar dari aula
Fakultas Sastra itu. Berjalan terus memijak rerumputan, membelah halaman,
dan pergi ke fakultas lain.


"Terus terang, aku heran bagaimana kau bisa kenal cewek itu." Kalimat ini
berputaran terus di benak Tody. Ya, bagaimana aku bisa mengenalnya? Tody
menghela napas dalam-dalam. Gadis itu datang membawa problem baru dalam
hidup ini. Tindakannya mengacaukan image yang kupelihara selama ini.
Sebagai aktivis mahasiswa, ya, memang tak ada salahnya pacaran. Tetapi,
pacaran dengan menggunakan kekuasaan sungguh-sungguh buruk. Memanfaatkan
ketakutan seorang gadis untuk memulai pacaran, sungguh-sungguh buruk. Dan,
itulah anggapan setiap orang sekarang di kampus ini. Padahal, padahal,
padahal, ah! Sepatu Tody tersandung kerikil.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Siapa gadis itu, dan bagaimana dia sampai berani ke kantor panitia, tak
seorang pun tahu pasti. Bahkan aku pun tidak. Jika saja orang punya alat
untuk mencek isi dadaku, ya, jika saja! Biar orang tahu bahwa aku sama
sekali tidak memanfaatkan situasi Mapram ini untuk kepentingan pribadiku.
Peristiwa ini teramat kecil sebenarnya dibandingkan dengan rangkaian
kehidupan yang harus kujalani. Tetapi, kekonyolan membuatku bingung.


Atau, barangkali aku terlalu lemah? Atau, barangkali lantaran gadis itu
cantik? Di dasar hatiku, sebenarnya aku menginginkannya. Cuma, aku tidak
menginginkan situasi semacam sekarang ini. Jika saja bisa berkenalan
dengannya bukan dalam posisi sebagai ketua panitia Mapram! Ya, jika saja.
Tetapi, bagaimana bisa? Lingkungan kehidupan gadis itu bukan lingkungan
kehidupanku.


Akan berkepanjangan pembicaraan dengan diri sendiri itu seandainya Tody
tidak melihat Anton berjalan bergegas. Begitu matanya menangkap Tody, Anton
mengacungkan ibu jarinya. Gondrongnya melambai-lambai diterpa angin. Dan,
Tody melihat keceriaan pemuda itu. Alangkah bedanya kami, pikir Tody. Dia
begitu bergairah dalam setiap keadaan.


"Ayo, minum dulu. Ada informasi gawat!" kata Anton. Tanpa menunggu jawaban
Tody, dia berjalan terus. Tody terpaksa mengekorinya. "Minum di mana kita?"


"Di mana saja, asal kau tak terlalu lincah," kata Tody.


"Ke warung itu saja. Wah, cewek-mu itu membuat perutku lapar."


"Cewek-ku? Apa-apaan kau?"


"Nantilah kuceritakan. Sekarang, aku perlu sepiring nasi rames dan beberapa
potong tempe goreng. Kalau kondisi mengizinkan, yah, aku juga memerlukan
telor dan ikan seadanya."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Mereka masuk ke warung. Begitu duduk, Anton menyambar peyek.


"Bukan main, bukan main," katanya.


"Apanya bukan main?"


"Kau," ujar Anton dengan mata tersenyum-senyum.


"Ah, mulailah."


"Nanti dulu! Sembari makan akan lebih puitis."


"Aku tak perlu puitis-puitisan."


"Nah, itulah. Kau terlalu kaku. Kau tidak melihat kehidupan ini dalam
seluruh fasetnya. Kau kelewat serius. Makanya kau tak tahu, cewek itu,
siapa namanya? Irawati. Ya, Ira, cinta sama kau."


Tody tersedak, dan cepat-cepat meletakkan gelasnya.


"Jangan main-main kau," katanya kemudian.


"Siapa yang main-main? ‘Kan kubilang, bukan main, bukan main."


"Ya, ya, ya. Lalu, bagaimana?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Ini berdasarkan penelitian ilmiah psikologis. Kesimpulannya, dia mencintai
kau! Hebat nggak?"


"Kau biasa omong kosong."


"Bah! Kau meragukan ilmuku? Aku sudah gunakan teknik-teknik interviu yang
berdasarkan metodologi."


"Aaah, itu urusanmu. Aku cuma ingin tahu bagaimana hasil pemeriksaan.
Sebab, sebagai ketua panitia, aku bertanggung jawab kalau ada cama-cami
yang mengalami gangguan jiwa selama Mapram ini."


"Lebih-lebih menyangkut dia. Nah, aku mulai saja." Anton menyemba telor
mata sapi. "Waktu aku masuk ke ruangan yang pengap itu, ah, ya, kau perlu
minta fan pada pengurus universitas. Dia menatapku nanap. Matanya yang
bagus seperti mata cincin itu berketap-ketip. Aku jadi ingat kijang minta
kacang di kebun binatang. Itu yang namanya mata redup-redup memanggil bak
bintang kesepian di kangit kelam."


"Ah, kau bertele-tele!" bentak Tody.


"Uraian ilmiah tak harus kaku. Perlu juga bahasa indah. Kuteruskan. Aku pun
membalas menatapnya lekat-lekat. Seraya mengirimkan hipnoseku, aku berkata,
‘Hello, Nona.’ Bibirnya hampir terkuak. Tak jadi. Tak kuketahui kenapa. Aku
duduk di depannya. Sesaat kupandangi dia. Dan, terasa ada kepinding di
kursi yang kududuki." Mulut Anton berdecap-decap mengunyah.


Tody pelahan menggigit kerupuk. Takut gemeretak kerupuk itu mengganggu
Anton.


"Kemudian kataku, ‘Namaku Antonius. Mudah-mudahan nama itu tidak menakutkan
Anda.’ Dia tersenyum. Kupikir, senyumnya layak ditampilkan di teve untuk
reklame apa saja. ‘Aku juga panitia Mapram,’ kataku. ‘Tapi, ketahuilah aku
adalah senior yang paling baik di antero kampus ini.’


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Ah, masak?" katanya. Senyumnya tambah mekar.


"Kalau tak percaya, tanyakan rektor kita," kataku. "Rektor dan beberapa
profesor di kampus ini pernah kumapram."


Dia tertawa. Dan, melihat tawanya itu, aku berpikir. Andainya aku belum
punya pacar, dia patut dicintai. Lalu kutanya, "Kabarnya kau membenci semua
senior di kampus ini?"


"Siapa bilang?" katanya.


"Ada. Kabarnya kau membangkang setiap perintah senioren."


"Tidak, tidak. Saya tidak membangkang. Saya cuma tidak mampu melaksanakan
perintah-perintah yang kelewat di luar batas saja."


"Perintah bagaimana yang di dalam batas?"


"Ah," katanya. Dan, dia mengedikkan bahunya, kayak marah.


"Kau bisa cerita setiap perlakuan senioren yang tidak sepantasnya. Sebab,
memang tugasku untuk menampung info-info tentang mereka. Aku bertugas di
bidang pengawasan senioren. Semacam provoost-nya mahasiswa, begitulah,"
kataku.


"Apa-apaan itu?" pintas Tody.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Diam sajalah. Itu teknik biasa. Menghadapi pasien, kita harus menempatkan
diri satu front dengan mereka. Nah, kulanjutkan ya? Kulihat pancaran
matanya kian bersahabat. Sedikit mesra. ‘Ceritakanlah kalau ada
kesulitanmu,’ kataku.


"Betul Mas pengawas Kakak-kakak Senior?" tanyanya.


"Ya. Itu bisa kaucek nanti sama ketua panitia. Kau sudah kenal, ‘kan?"


Dia mengangguk. Kemudian matanya kelihatan terhujam ke lantai. Istilah
populernya, dia tersipu-sipu. Pada hematku, dia menyimpan sesuatu di
hatinya.


Lalu kejarku, "Atau kau takut padanya?"


"Tidak, tidak, tidak," katanya cepat. Dan aku pun mengambil pangkal tolak
bahwa dari titik inilah aku harus memulai.


"Yah, dia memang tak patut ditakuti. Sebab, setahuku, dia sangat baik.
Atau, tidak?" kataku.


"Tidak, tidak, tidak," katanya.


"Tidak bagaimana?"


"Ah, tak tahu," katanya. Nampak-nampaknya dia memendam rasa. Di ruangan
sebelah ramai anggota panitia yang bekerja. Di antara mereka ada yang
menjenguk lewat pintu, dan berseru, "Hop, Anton mulai main film lagi?"


Kurang ajar sekali. Tapi, tak kupedulikan. Gadis itu makin menarik


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


perhatianku. Perhatian dalam arti ilmiah tentunya. Jadi obyek studi. Dari
ruangan itu aku melihat lewat jendela, ke arah bangunan fakultasmu.
Mencari-cari kau. Tapi, terang saja kau tak kelihatan. Lalu interviu
kulanjutkan, "Kudengar kau pingsan beberapa kali. Betul? Kenapa?"


Dia agak gugup.


"Kalau kau pingsan lantaran perlakuan senioren, kau boleh melaporkan
sekarang padaku. Senioren mana dan bagaimana perlakuannya."


Pada mulanya dia tak mau menjelaskan. Tapi, dengan teknik interviuku yang
brilian, akhirnya lamat-lamat dia menceritakan persoalannya. Rupa-rupanya
Johan punya perhatian padanya. Kau tahu sendiri tabiat Johan. Agak punya
badakisme. Dia sangat offensive. Gadis itu jadi bulan-bulanan terusmenurus.
Gadis itu merasa tak aman.


"Saya bosan dikejar-kejar," katanya.


"Dikejar bagaimana?"


"Terlalu banyak lelaki yang agresif. Sejak SMA, saya sering pusing dibuat
oleh lelaki-lelaki yang tak tahu malu."


"Barangkali karena kau primadona di SMA-mu?"


"Bukan itu. Tapi, memang lelaki selamanya mau jadi penakluk. Mereka akan
bangga kalau dapat menaklukkan seorang perempuan. Semakin kita mengelak,
semakin dia ngotot. Dan, begitu kita jauh, dia akan meninggalkan kita."


"Wah, hebat pandanganmu. Naga-naganya kau sudah berpengalaman nih," kataku.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Pengalaman? Ah, entahlah," katanya.


Omong punya omong, dia kelepasan bicara. Dan, aku pun tahu tentang cintanya
padamu."


"Uf, bagaimana mungkin!" kata Tody.


"Apa yang tak mungkin di kolong langit ini? Selama bumi masih berputar,
segala macam kemungkinan bisa terjadi. Dia mencintaimu."


"Apa dia bilang?"


"Katanya, karena kau diam bagai gunung, kau kukuh dalam pendirian. Dia
merasa, kau seorang lelaki yang setia."


"Antooon, Anton. Dia baru dua atau tiga hari mengenalku. Bagaimana bisa dia
membuat kesimpulan begitu?" kata Tody.


"Sewaktu Onassis ketemu Jaqueline...."


"Bah! Aku bukan Onassis! Kau mengada-ada!"


"Mengada-adakan yang ada, apa salahnya?" kata Anton. Tody tersenyum pahit.
Dia melayangkan pandang ke luar. Bangku-bangku di warung itu kosong.
Stofles berisi emping melompong di depannya.


"Kau belum pernah mengalami kegagalan, Anton. Makanya kau bisa percaya pada
gadis-gadis. Kalau harus ada yang tidak kau percayai di muka bumi ini,
kupikir itu adalah dirimu sendiri. Bukan gadis-gadis."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Bah!" gerutu Anton.


"Sebab, kau selamanya mendapatkan gadis yang kau inginkan, Anton. Dan,
kautinggalkan jika kau tertarik pada gadis lain. Aku tidak seperti kau. Kau
ingat Werdaningsih pada pelonco dua tahun yang lalu? Aku cuma menjadi
penjemput dan pengantar, ternyata. Di akhir perpeloncoan, orang tuanya
mengucapkan terima kasih. Lalu Werdaningsih memberikan tanda mata, fulpen
Parker satu set. Katanya itu kiriman tunangannya di luar negeri, untukku
sebagai tanda terima kasihnya sebab aku telah menjaga Werda. Memangnya aku
ini buldog mereka?"


"Itu karena kau tak hati-hati. Kau terlalu berharap."


"Berharap, katamu? Apakah ada yang tidak berharap kalau seorang lelaki
menjemput dan mengantar seorang gadis yang bukan adik, bukan apa-apanya?
Apakah ada? Tunjukkan orangnya, siapa di antara teman-teman kita yang tanpa
pretensi dalam mengawal gadis-gadis. Kecuali.... ya, kecuali jika memang
dia bertugas dalam kepanitiaan untuk menjemput dan mengantar. Bahkan itu
pun bukan mustahil punya harapan-harapan tertentu."


"Anggap sajalah pengalaman pahit itu kecelakaan."


"Lalu dengan Lidia. Polanya sama. Kekonyolan yang kualami sama.
Kepahitannya juga sama."


"Habis, kau mendekati cewek-cewek yang sudah bertunangan," kata Anton.


"Bagaimana aku tahu dia sudah bertunangan? Selama pelonco dia seperti
seorang kekasih."


"Sempat kaucium?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Ah!"


"Kalau sempat kaucium, itu sudah sangat memadai. Tak perlu susah-susah."


"Apakah kaupikir hubungan lelaki dan wanita hanya cium-cium dan dekap-dekap
saja?"


"Untuk permulaannya, tak apalah. Nanti kalau sudah cocok betul, baru
dipikirkan lebih lanjut."


"Bagiku tidak sesederhana itu. Lebih luhur."


"Boleh luhur. Tapi, harus punya reserve."


"Reserve tinggal reserve. Tapi, kalau diperlakukan seperti buldog pengawal,
tentu saja sakit. Pahit."


"Mulailah dari sekarang."


"Sekarang lebih sulit, Anton. Dulu aku cuma anggota panitia. Sekarang
ketua. Mau tidak mau banyak sekali bedanya. Aku harus hati-hati."


Anton diam.


Tody pun membisu. Dia mengawasi muka Anton. Memperhatikan dagu Anton yang
kukuh. Matanya yang hitam jernih dan selalu bagaikan tersenyum. Mata yang
ramah. Di botol limun, Tody melihat mukanya sendiri. Tak terang. Cuma, dia


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


bisa membayangkan matanya yang selalu murung.


"Soalnya, Anton, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa selama Mapram ini
seorang gadis betul-betul mau bercinta, bukan hanya sekadar mencari
perlindungan?" tanya Tody lambat-lambat.


"Kenapa harus dipersoalkan? Pokoknya, selama dia mau, manfaatkan!"


"Ah, aku tak bisa begitu."


"Kau mau bercinta kayak Nabi-Nabi? Hah!"


"Aku bukan Nabi. Cuma, aku tak suka keisengan."


"Kalau kau terlalu serius, sebelum umur tiga puluh jidatmu sudah berkerut
tujuh dan kepalamu botak. Maka kau pun digolongkan barang tua. Kalau barang
antik, masih lumayan. Ada harganya. Mungkin disenangi oma-oma pengumpul
barang antik. Tapi, kalau rongsokan? Wah, wah, minta ampun."


"Jadi, bagaimana harus kubuat?"


"Nah, kembali ke soal gadis yang bernama Irawati itu. Mumpung dia bilang
sedang tertarik pada kau, ya, jadikanlah dia kekasihmu."


"Kalau hanya untuk keamanan saja?"


"Ya, kapan-kapan cari yang lain."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Artinya, aku harus mengalami kekonyolan yang sama?"


"Jangan lihat tindakannya menipu kau. Lihat saja tindakan kau yang
memanfaatkan dia. Aman. Tenteram. Senang. Itu akan membahagiakan jiwa."


Tody menggeleng-geleng. "Kukira kau bisa memberi advis yang ilmiah
berdasarkan ilmu psikologimu," keluhnya.


"Yah, itu berdasarkan ilmu."


"Ilmu playboy!"


"Kau mau mencari cinta yang sejati, sekali nemplok langsung pada kau? Wah,
itu payah. Kalau kau ngotot, akhirnya kau jadi pastor. Daripada begitu,
lebih baik sekarang kau masuk seminari. Belum terlambat. Orang tuamu di
Flores sana akan senang sekali."


Tody mengeluh.


Anton mengipas-ngipaskan buku ke lehernya. Hawa di warung itu semakin
pengap.


"Oke, bayarlah. Kita omong-omong di bawah pohon cemara itu," kata Anton.
Lalu dia mendahului keluar.


***


Cukup lama Widuri membiarkan ruangan itu hening. Cuma suara mesin tik dari


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


ruangan sebelah terdengar. Di sudut ruangan, duduk Irawati. Dia pun dibalut
senyap.


Matahari mencorong di langit. Kemudian Widuri merasa bosan membaca. Poripori
kulit menganga dalam sungkupan hawa siang yang terik.


Widuri mengangkat kepala, dan tersenyum kepada Irawati yang menatapnya.


"Panas ya?" kata Widuri.


Irawati mengangguk.


"Konstruksi bangunan ini memang kurang baik. Angin tidak bebas bertiup dari
luar."


Di kejauhan, pucuk cemara bergoyang diterpa angin. Menimbulkan imaji sejuk.


"Mari, kita keluar," kata Widuri kemudian.


Irawati mengikutinya.


Kedua gadis itu berendengan di sepanjang jalan di kampus. Cemara
menderaikan daunnya. Seperti sajak Chairil Anwar. Rambut Widuri yang
tergerai hingga bahu berberaian dalam hembusan angin dari selatan.


Jalan yang mereka susuri memanjang ke depan. Matahari menimpakan sari-sari
panasnya ke aspal yang tak terlindung pepohonan. Uap panas menari-nari di
permukaan aspal.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Kau disuruh apa sama Mas Tody." Tiba-tiba Widuri bertanya membuat Irawati
gelagapan.


"Eh, tidak, tidak apa-apa," jawabnya kemudian.


Dan, keduanya diam lagi. Celepak sepatu masing-masing berdesir-desir di
pasir. Mereka berjalan dari kelindungan pohon yang satu ke kelindungan
pohon yang lain. Gedung Induk Universitas Gadjah Mada megah dalam balutan
cat putihnya. Langit biru dan awan mengapas putih. Jantung Kampus Gadjah
Mada itu dari kejauhan terlihat anggun.


Teriakan-teriakan senior yang membentak cama-cami semayup dibawa angin.
Widuri menatap ke arah teriakan-teriakan itu, sedang Irawati melangkah
dengan kepala tertunduk.


"Kau sering sakit, Dik Ira?"


"Saya? Ah, tidak. Kenapa?"


"Kenapa kau gampang pingsan?"


"Saya pun tak tahu. Cuma, saya kepingin pingsan kalau hati saya jengkel."


"Waktu Mapram dulu, saya pun pernah pingsan. Tapi, memang karena badan saya
lemah. Dulu saya sakit-sakitan. Dan, penakut. Saya takut pada semua
senior."


"Kabarnya Mapram dulu lebih berat?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Yah, lebih berat. Dulu tak pernah pulang di bawah jam dua belas malam.
Bahkan sampai jam satu, jam dua. Apel pagi jam lima. Siang terbakar panas,
malam kedinginan. Betul-betul sengsara. Tapi, yah, bisa juga dilalui.
Solidaritas antarteman sangat tebal. Mereka, para cama, akan mengantar
teman-teman putri pulang. Kadang-kadang ada juga Kakak Senior yang
mengantar."


Langkah mereka tetap beraturan. Irawati memperhatikan seekor burung yang
menyambar-nyambar pucuk pohon cemara.


"Dik Ira dengan siapa biasa pulang?"


Irawati gelagapan lagi. Burung yang diperhatikannya tadi membubung tinggi
ke angkasa. Tinggal titik hitam di langit.


"Dengan teman," katanya pelahan sekali.


"Teman se-Mapram?"


"Ya, eh...."


Widuri meliriknya. Dan, dia melihat kecanggungan di wajah Irawati.
Sementara itu, Irawati sendiri sedang berpikir, kenapa harus takut? Kenapa
harus ragu-ragu?


"Dengan Mas Tody," katanya tuntas, dan melirik Widuri.


Akan halnya Widuri, gadis ini hanya menatap kerikil di jalanan.


Pacarnyakah lelaki itu? Pacarnyakah? Kalau bukan, pikir Irawati, kenapa dia


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


mendadak menatap ke tanah? Kenapa dia tak berani membalas tatapanku?


"Rumah kalian berdekatan?" tanya Widuri.


"Tidak," jawab Irawati.


"Ooo," kata Widuri pelahan.


Maka Widuri - mahasiswa ekonomi tingkat tiga itu - menapaki jalan dengan
membisu. Cemara tak bosan-bosannya bergoyang. Gerumbul semak di pinggir
jalan tetap berbunga cantik walau tak terpelihara. Rumput-rumput ada yang
berbunga kecil-kecil sebesar pentol korek api, berwarna putih dan ungu.
Seekor kumbang menggeremet di bunga liar itu.


"Haus?" kata Widuri.


"Ya," kata Irawati.


"Mari kita ke kafetaria sana."


Mereka melintasi jalan setapak yang dihampiri kerikil dan pecahan genteng.
Batu yang terinjak berbunyi berderik-derik. Jalan berkerikil itu melintang
dalam ujud perempatan.


Dan, suara dari samping, "Hai, Ira!"


Anton dan Tody.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Hai, Wiwik!" tambah Anton.


"Dari mana, Mas Anton?" tanya Widuri.


Anton menunjuk warung di luar kampus. Tody bertatapan dengan Irawati. Dan,
ah, ah, ah! Memang lain. Mata gadis itu tersipu-sipu, pikir Tody. Kemudian
dia berabh memandang Widuri. Cepat sekali Widuri meloncatkan pandangan ke
tempat lain.


"Kami mau minum," kata Widuri. "Ikut?"


Anton menggeleng. Dia lantas menepuk-nepuk perutnya. Widuri mengangkat
bahu, lalu menarik tangan Irawati. Dan, sebelum melangkah, Irawati
melontarkan pandang lagi, membuat Tody menelan ludah yang agak tersekat.
Berjalan beberapa langkah, Tody menoleh lagi. Lalu menoleh kepada Anton
sebab terdengar Anton tertawa kecil.


Kedua gadis itu lenyap di pintu kafetaria. Anton tertawa lagi. Lebih keras
dari sebelumnya.


"Ngetawain apa?" Tody dongkol.


"Ngetawain cinta!"


"Hah, gila!"


***


Mereka kembali melangkah. Ujung sepatu sandal Anton menendang-nendang
kerikil sehingga beberapa butir kerikil bertemperasan ke rerumputan di


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


pinggir jalan.


"Kelihatannya mereka akrab," kata Anton.


Tody tak menimpali.


"Widuri kesepian," lanjut Anton.


"Oh, ya? Kenapa tak kaupacari?"


"Mana dia mau?"


"Kenapa tidak?"


"Karena dia tahu aku sudah punya pacar."


"Kan ada gadis-gadis yang bangga sebab bisa merebut pacar gadis lain."


"Tapi, dia bukan tipe itu."


"Bah! Sejauh mana sudah kaukenal dia?"


"Berdasarkan analisa, Bung."


"Ah, analisamu sering ngawur."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Eh, jangan meremehkan. Sudah berapa orang yang terganggu jiwanya berhasil
kusembuhkan."


"Iya, menghadapi orang senewen kau memang bisa. Tapi, yang waras tunggu
dulu."


"Lebih mudah menghadapi orang normal daripada yang mengalami gangguan
jiwa."


"Tapi, kau tak bisa menyembuhkan dirimu sendiri."


"Bajingan!"


"Ya, kau pun perlu menyembuhkan diri sendiri. Kenapa kau tak pernah puas
pacaran?"


"Siapa bilang tak pernah puas? ‘Kan aku sudah stop untuk yang sekarang.
Setelah dia, tidak akan pindah lagi. Dia betul bakal jadi ibu anak-anakku."


"Betul nih?"


"Tunggu saja tanggal mainnya."


"Wah, hebat."


"Ya, memang hebat." Anton tertawa mengakak.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Jadi, kita tak perlu melihat cewek cantik di Fakultas Sastra itu?"


"Kenapa tidak?" kata Anton cepat.


"Katamu tak bakal pindah lagi?"


"Tukar pacar memang tidak. Tapi, melihat-lihat ‘kan boleh saja? Setiap
keindahan, di mana pun tempatnya, harus dinikmati. Ibarat melihat lukisan,
aku senang lukisan Rusli. Tapi, itu ‘kan tidak menutup kemungkinan untuk
melihat pameran Nashar, Zaini, atau Affandi. Nah, mari kita lihat cewek
yang seperti bintang film Prancis itu."


"Pacarmu tidak bakal cemburu?"


"Wah! Ini bukan ngecap. Tapi, dia memang orang yang paling sempurna. Dia
memahamiku dan mempercayaiku. Itulah sebabnya aku tak akan mencari yang
lain sampai kapan pun. Sebab, aku tak akan bisa mendapat gadis yang
melebihi dia."


Mereka melangkah lebih bergegas. Tetapi, baru kira-kira sepuluh langkah,
Anton memperlambat langkahnya.


"Eh, omong-omong soal Widuri lagi. Berdasarkan analisaku, dia mencintai
kau, Tody."


Tody berhenti, dan katanya, "Antooon, Anton. Tiap gadis mencintaiku. Aduh,
aku bisa bunuh diri nanti."


"Ini sungguh-sungguh. Soalnya, waktu kita rapat pembentukan panitia Mapram
ini tempo hari, waktu kau dipilih jadi ketua, dua bulan yang lalu ya....?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Hm."


"Sehabis rapat malam itu, kami, aku dan Widuri, pulang bersama."


"Wow! Kaucium dia?"


"Ah, diam dulu! Sepanjang jalan, dia banyak sekali menanyakan kau."


"Seberapa banyak? Berikan angka-angka statistik. Jangan mengada-ada."


"Hampir sembilan puluh dua persen percakapan mengenai kau."


"Apa saja yang kalian bicarakan?"


"Dia yang bertanya. Aku cuma berfungsi menjawab kayak komputer."


"Apa yang ditanyakannya?"


"Apakah kau sudah punya pacar...."


"Hah! Tidak mungkin!"


"Kenapa?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Tidak mungkin. Tidak mungkin gadis Jawa seterus terang itu. Tak mungkin
se-blak-blak-an itu."


"Ya, memang bukan pertanyaan langsung sepersis kalimat itu. Dari
pembicaraan hilir-mudik sepanjang jalan itu, maksudnya kutangkap, itulah
kira-kira."


"Lalu, apa jawabmu?"


"Kubilang, kau tak punya pacar. Belum punya pacar."


"Terus?"


"Dia diam."


"Terus?"


"Kucubit tangannya."


"Terus?" Tody tambah antusias.


"Kutanya dia, apakah dia mau jadi pacarmu."


"Terus?"


"Mau?" desakku.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Terus?"


"Ah, mungkin dia sudah ada yang punya," katanya."


"Terus?" Tody lebih bersemangat.


"Terus, terus, terus becak kami masuk lobang di dekat rumahnya, lalu
tamat."


"Ah, brengsek!" keluh Tody sembari menghembuskan napas jengkel.


"Ini sungguh-sungguh, Tody."


"Bagaimana bisa membedakan imajinasimu dengan fakta-fakta? Kau sudah
ketularan pasien-pasienmu!"


"Kalau tak percaya, apa boleh buat?"


"Andainya betul, kenapa baru sekarang kauceritakan?"


"‘Kan baru sekarang kita ketemu sejak rapat itu? ‘Kan aku riset ke luar
daerah selama ini? Lalu sibuk di biro konsultasi itu. Bagaimana bisa
menceritakannya?"


"Ah, kau memang pikun!"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Kau pun, ketemu-ketemu terus mengajukan persoalan!" Anton bersiul-siul.
Lagu Blowing in The Wind baru sepotong, dia memutus dengan siulan yang
panjang ke arah seorang gadis yang mereka papasi.


Tody mengangguk menyalami gadis itu.


"Gila kau! Itu asisten di fakultasku," kata Tody dengan suara tersekap.


"Oh, ya? Lumayan juga pinggulnya."


"Jangan kurang ajar kau!"


"‘Kan di tingkatmu tidak ada asistensi-asistensian?"


"Walaupun begitu, dia asisten di fakultasku!"


"Ho, aku juga asisten di fakultasku. Malah kalau perlu, dia kujadikan
pasienku."


"Ah," kata Tody.


Mereka kembali melangkah.


"Nah, ternyata ada dua gadis mencintai kau. Widuri dan Irawati," kata
Anton.


"Itu semua dugaan-dugaanmu."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Selain itu, mungkin masih ada gadis lain. Siapa tahu? Ya, kita harus punya
kepercayaan pada diri sendiri. Setiap gadis mungkin saja mencintai kita.
Yang jadi soal cuma kesempatan. Moment! kita harus menciptakan moment yang
tepat."


Tody membisu, menekuri tanah yang akan dipijaknya.


Anton meliriknya, mengawasi tubuh lampai yang berjalan diam-diam itu.
Meneliti rambut Tody yang tersisir rapi. Rambut yang hitam, dan - paling
tidak - sekali dalam dua puluh hari dipangkas. Sempat pula Anton menatap
baju tetoron Tody yang rapi dan dimasukkan ke celananya yang berwarna gelap
itu. Sepatunya yang mengkilat itu, pikir Anton, setiap pagi minimal
memerlukan waktu dua puluh menit untuk mempersiapkan itu semua.


Anton tersenyum seraya memandang kulit sepatu sandalnya. Lalu dia menendang
kerikil lagi. Dan, keduanya tiba di jalan beraspal yang membelah kampus.


"Jangan terlalu ragu-ragu. Punyailah keberanian," kata Anton. "Pilih satu
di antara kedua gadis itu."


"Ah, kau membuat aku bingung," kata Tody.


"Kenapa harus bingung?"


"Urusan dengan cami itu saja sudah memusingkan kepala. Kau tambah lagi
dengan soal Widuri. Itu membuat aku canggung menghadapinya. Padahal kami
harus sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan di kampus ini."


"Untuk sementara, urus dulu cami itu. Sedikit agresiflah. Dan, andainya kau
jatuh cinta, jangan cinta tanpa reserve. Kalau dia banyak tingkah, kau
tidak terlalu kecewa."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Tody menggeleng-geleng.


"Tak sanggup?" kata Anton.


Tody membisu.


"Jadi, masih mau bercinta kayak Nabi-Nabi?"


Tody tetap memperhatikan batu-batu di jalan.


"Kalau kau mau bercinta kayak Nabi-Nabi, kau harus baca lebih teliti kitabkitab
suci. Perempuan kayak apa yang bisa merebut hati Nabi-Nabi, dan
perempuan kayak apa yang menjadi istri mereka. Setahuku, dalam kitab suci
tak ada disebut-sebut wanita yang jadi nyonya Nabi karena keistimewaan
dirinya. Oh, ya, ada. Nabi Ibrahim. Dia punya istri dua orang, dan keduanya
tak banyak cingcong. Nah, kau bisa meniru jejak Nabi Ibrahim."


"Uf, kau tambah sinting!" keluh Tody.


"Itu hanya sekadar advis. Boleh diturut, boleh tidak. "


Tody berdecak jengkel.


"Kau tak pernah serius," katanya.


"Kau kelewat serius," kata Anton.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Hidup ini singkat, Anton. Kalau tidak serius, bagaimana jadinya?"


"Karena hidup ini singkatlah makanya kita harus menikmatinya dengan humor.
Kau tak tahu kenapa kau harus lahir, dan kapan kau mati. Jangka hidup kita
sama sekali tak terduga. Kita datang dari misteri, dan akan kembali ke alam
misteri yang tak seorang pun mengetahuinya bagaimana keadaan di situ. Lalu,
apakah selama jangka waktu yang tak bisa diduga lamanya ini kita harus
berkerut kening terus-menerus? Alangkah sia-sianya hidup."


Tody diam-diam mencerna ucapan itu.


"Hei, jangan termenung!" kata Anton. "Termenung sambil berjalan itu betulbetul
buruk untuk peradaban."


Tody membisu. Mereka berjalan ke selatan.


Angin berdesah di gerumbul semak di pinggir jalan. Rambut Anton berkibaran.


"Kau ada persoalan, cepat datang ke tempatku. Cuma, tunggu sampai aku
berada lagi di kota ini. Soalnya, besok aku ke luar daerah lagi,
melanjutkan riset tempo hari. Selama aku tak di sini, kau harus easy going.
Paham?"


Tanpa sadar Tody mengangguk.


"Tak peduli apa motif cami itu. Kalau dia bilang menyukai kau, sukai pula
dia. Jangan pikir-pikir terlalu dalam kenapa dia menyukai kau. Apakah
karena kau ketua, karena kau hampir dokterandus, karena segala macam,
jangan pedulikan. Pokoknya bercinta. Kalau dia cuma iseng-iseng atau
mempermainkan kau, kau pun harus siap menganggap pengalaman itu sebagai
keisengan pula. Itu namanya bercinta dengan reserve. Paham?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Seperti robot, Tody mengangguk.


***


Cemara Sepi


DI SUDUT yang gelap, Gedung Gadjah Mada, Widuri tegak diam-diam. Cama-cami
sudah bersiap-siap untuk pulang. Tinggal apel malam. Lampu-lampu di kantor
panitia menyala terang. Anggota panitia masih banyak yang bekerja. Lalu,
dari pintu, keluar Tody. Di sudut yang gelap itu, mata Widuri tak berkedip.
Kemudian keluar pula Irawati. Dia tersenyum. Dari kejauhan, Widuri melihat
senyum itu samar-samar. Maka dia menghela napas dalam-dalam sepenuh dada.


Keduanya, Tody dan Irawati, meninggalkan kantor itu. Lalu Widuri pun
meninggalkan sudutnya yang gelap. Dia berjalan pelahan ke kantor panitia.


Tak ada bulan di langit. Makin kelam. Pohon cemara yang tegak hanyalah
berupa bayangan kehitaman, bayangan yang menuding bintang-bintang.


Tody berjalan membisu dengan tangan di saku celana. Langkah Irawati berayun
di sampingnya. Gadis itu melirik lelaki berpakaian necis yang berjalan di
sampingnya. Lalu dia membandingkan dengan pakaiannya yang lusuh. Pakaian
untuk Mapram. Andainya bukan sedang Mapram, dia bisa melihatku dalam
pakaian apik, pikir Irawati. Dan, dia ingat fashion baru di Majalah Femina.
Dan, dia ingat pula bagaimana teman-temannya selalu menertawakan lelakilelaki
yang terlalu necis. Lelaki abad pertengahan, kata mereka. Pemudapemuda
modern lebih suka pakaian yang sedikit acak-acakan, tetapi tetap
mengikuti mode.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Jalan memanjang di depan Tody dan Irawati.


"Kok diam saja sih?" kata gadis itu.


"Hm?" gumam Tody dan mencabut tangannya dari saku.


Irawati mengayun-ayunkan tasnya. Topi Mapramnya yang berbentuk kerucut
didekap di dadanya. Atribut-atribut Mapram lainnya ada di dalam tasnya.


"Tinggal dua hari lagi," katanya.


"Lalu mulai kuliah," kata Tody.


"Bagaimana biar bisa naik tingkat tiap tahun ya?"


"Belajar."


"Bagaimana cara belajar?"


"Belajar ya belajar."


Gadis itu tertawa halus.


Tody mendongkol. Merasa diejek.


"Baca saja buku ‘Bagaimana Belajar Efisien’!" katanya.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Bagaimana caranya mempelajari buku itu?"


Tody menghembuskan napasnya keras-keras. Jengkel. Merasa dipermainkan.


Memang gadis itu sengaja mempermainkannya.


Terbukti, dia tersenyum-senyum.


"Kita naik becak saja," kata Tody.


"Tapi, tadi sudah janji mau jalan," kata gadis itu.


"Sekarang naik becak," kata Tody tandas.


"Nggak mau, ah!"


"Kalau begitu, kau pulang sendiri."


"Alaaa, Mas Tody. Begitu saja marah."


"Siapa marah?"


"Ooo, nggak marah to?"


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Dan, gadis itu memegang tangan Tody. Dan, lelaki itu mengherani keagresifan
itu. Belum pernah dia menemukan gadis seberani ini. Belum pernah. Lebihlebih
gadis yang berasal dari lingkungan Keluarga Jawa. Maka Tody semakin
bertanya-tanya. Gadis macam apa sebenarnya yang berjalan merendenginya ini!


Jari-jari gadis itu halus dan hangat. Lunak, tetapi mencekam. Lalu Tody
membalasnya. Dan, keduanya terus berjalan.


Dingin merambat dari malam yang kian tua. Angin yang bertiup, giris
mengenai kulit. Tetapi, telapak tangan keduanya tetap hangat. Dan, semakin
hangat. Dering bel semayup.


Mereka melintasi Bioskop Royal, yang memajang poster film silat. Nama Wang
Yu tertulis besar, berhadapan dengan poster film dengan nama peran utama
Chen Chen.


"Mas Tody suka film silat?" tanya gadis itu.


"Suka."


"Apa sih bagusnya?"


"Tak tahu. Pokoknya suka."


"Lha iya, tapi ‘kan ada sebabnya. Ceritanya, aksinya, atau apa...."


"Ah, entah!" Tody berdecak.


"Selain film silat?" tanya gadis itu lagi, mengusik.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Koboi."


"Kok senang?"


"Senang melihat pemandangan-pemandangan padang rumput. Itu mengingatkan
pada daerahku."


"Di mana?"


"Nusa Tenggara."


"O, jauh."


Tody diam. Sepatunya berdetuk-detuk di aspal. Lampu-lampu jalan bersinar
redup. Tiga tiang listrik mereka lalui dengan membisu.


Alangkah kakunya lelaki ini, pikir Irawati. Alangkah angkernya. Tapi,
masakan tak bisa ditaklukkan?


Alangkah agresifnya gadis ini, pikir Tody. Bagaimana latar belakang
kehidupannya sehingga sikapnya sebebas ini? Apakah dia semacam gadis yang
pernah diceritakan Anton? Gadis yang bisa ditemui di depan bioskop lalu
diajak nonton dan minum-minum di restoran, diantar pulang, kemudian dicium
di bawah kerindangan pohon di depan rumahnya? Semacam gadis itukah dia ini?


Mereka saling menaksir-naksir. Berbincang-bincang, tetapi masing-masing
dengan dirinya sendiri.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Lelaki ini, kata hati Irawati, barangkali tipe anak sekolahan. Yang
dunianya cuma di balik dinding sekolah. Yang gemetar bila mencium seorang
gadis. Cuma, sekarang telapak tangannya hangat.


Lalu Irawati mempererat cekalan jarinya. Tody merasa jarinya diremas. Dia
melirik. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahunya. Rambutnya beberapa
helai lepas dari kucirnya dan menyenggol-nyenggol leher Tody. Geli. Tody
menatap sekilas.... berkeliling. Lengang. Maka dia membiarkan kepala gadis
itu tersandar di situ. Adapun Irawati, selesai meremas jari Tody tadi
lantas mengendorkannya. Dia mengira lelaki itu akan melepaskan pegangan
tangannya, lalu memindahkan tangan itu ke bahunya. Dan, Irawati bersiapsiap
merangkul pinggang lelaki itu. Tetapi, itu semua tidak terjadi. Tidak
terjadi. Tidak terjadi. Dan, mereka terus berjalan.


"Sehabis Mapram ini Mas Tody harus datang ke rumah, ya?"


Tody cuma menggumam.


"Mau?" kata gadis itu sembari menggeser kepalanya sehingga wajahnya
menghadap wajah Tody. Begitu dekat. Sampai terasa tiupan udara dari hidung
gadis itu oleh Tody.


Tody mengangguk.


"Betul?" Suara gadis itu mengajuk.


"Ya."


"Janji?" Lebih mengajuk lagi.


"Ya."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Betul-betul anak sekolahan, pikir Irawati. Andainya dia berpengalaman
dengan gadis-gadis, dia tentunya akan melihat bahwa ketika "Janji?" itu
diucapkan mereka berada di bawah keremangan rindangnya pohon mahoni. Di
situ, seharusnya dia berkata, "Ini janji." Dan, mencium. Tetapi, itu tak
terjadi. Tak terjadi. Tak terjadi.


***


LONGDRESS-kah namanya? Dan, pakaian itu membuat Irawati bagaikan dewi yang
melangkah hati-hati menginjak bumi. Pakaian itu berwarna putih. Lunakmengkilat.
Tiap kali gerakan, walau bagaimanapun halusnya, menguar
keharuman dari tubuh pamakainya. Keharuman yang menyejukkan.


Sepanjang jalan yang dilintasi becak, Tody menikmati keajaiban itu.
Menikmati keharuman yang mengambang serta kelunakan kulit gadis itu
manakala mereka bersentuhan lengan. Eyeshadow membuat mata gadis itu tambah
redup mempesona. Tanpa itu pun sebenarnya alisnya yang lancip dan bulu
matanya yang lentik telah menjadi mata itu menawan.


Mereka ke Malam Inaugurasi. Sementara tangannya ditindih tangan gadis itu,
Tody melayangkan pikirannya ke rumah gadis itu. Pada ibu gadis itu. Seorang
perempuan berkulit kuning, halus, dan bersih. Matanya lunak dan senyumnya
lembut. Suaranya juga lunak. Dalam bayangan Tody, perempuan tua itu belum
pernah marah seumur hidupnya. Betapa beda dengan gadis ini. Maka Tody kian
bertanya, bagaimana mungkin dari rahim seorang ibu yang selembut itu muncul
gadis sebinal Irawati? Perempuan tua itu setidaknya akan mewariskan sedikit
kelembutan kepada anak gadisnya ini. Bukan kebinalan. Tetapi, gadis ini
sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda sifat ibunya.


Secara fisik, dia memang lembut, sekarang. Dengan pakaian putihnya yang
panjang menutup kaki, lengan telanjang mulus, dia nampak setulus Malaikat.
Gerak-geriknya pun tak seliar hari-hari sebelumnya. Boleh jadi, sedemikian
besar pengaruh pakaian itu pada perujudannya.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


Rambut gadis itu tersanggul rapi ke atas kepala sehingga lehernya yang
jenjang nampak indah. Membuat dia nampak anggun. Boleh jadi, dia sengaja
menyesuaikan diri dengan dandanannya. Maka langkahnya tak lagi binal. Di
pintu rumah tadi, ibunya mencium kening gadis itu. Lembut.


"Aku tak pernah melihat ayahmu. Di mana dia selama ini?" tanya Tody tibatiba.


"Sering bepergian," jawab Irawati.


Lalu sepi lagi. Cuma lalulintas yang ramai.


"Kau tak punya saudara?" usik Tody.


"Ada beberapa orang. Tapi, semua sudah berumah tangga. Tinggal di kota
lain. Jakarta, Bandung, Duesseldorf, New York."


"Hm. Jadi kau paling kecil?"


"Ya."


"Satu-satunya perempuan?"


"Ya."


Mahasiswa-mahasiswa telah memenuhi aula yang luas. Di antara kepala-kepala
hitam, mencuat kepala-kepala plontos. Kebanyakan mahasiswa baru mengenakan


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


peci universitas, dengan kebanggaan sebab pertama kali berhak memakai peci
itu. Widuri menatap kedatangan Tody, dan melihat betapa cantiknya Irawati.
Widuri merasa sanggulnya berat. Maka gadis berkebaya itu meraba sanggulnya.
Ternyata masih rapi. Dia berkebaya warna hijau pupus. Dengan wajahnya yang
hitam manis, mata yang teduh, dan profil bulat telur, dia sungguh-sungguh
mewakili tipe gadis Jawa. Imaji Jawa yang menyimpan misteri dalam
ketenangan, kepasrahan, dan ketulusan. Dia adalah denting-denting gamelan
di tengah keheningan. Atau seruling yang semayup di hutan bambu. Dia adalah
lubuk yang dinaungi pohon beringin, bukan sungai berarus deras.


Maka Widuri duduk diam-diam di samping temannya sekuliah. Sesekali
mengiyakan ucapan temannya itu, lalu kembali menatap lurus ke depan.
Sekali, walau tak diinginkan, matanya singgah pada gadis langsing yang berlongdress
itu. Irawati tertawa-tawa bercanda dengan teman-temannya.


Acara-acara telah dimulai. Widuri tak tertarik pada pidato-pidato. Jika dia
menatap ke depan, dia melayangkan pandang ke dekorasi di dinding. Menikmati
hasil kerjanya. Ide-ide untuk elemen dekorasi itu berasal darinya. Janur di
sudut aula, juga bergantungan di berbagai tempat. Di aula itulah bergabung
keindahan mode-mode mutakhir pakaian para mahasiswa dengan keindahan
anyaman bunga dan daun hijau yang tetap klasik.


Faraitody berpidato. Mata Widuri ingin beralih, dan berpindah pada teman
yang menyenggolnya dan berkata, "Nampak-nampaknya ketua kita ini jadi
dengan gadis itu."


Widuri tak menjawab.


"Anak mana dia?"


"Sastra," kata Widuri.


"Ekonomi dengan sastra, itu tak cocok."


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Kenapa tidak?"


"Pasti banyak perbedaan cara berpikir. Sastra lebih cocok dengan psikologi
atau filsafat."


"Ah, siapa bilang!" kata Widuri. "Nyatanya, itu Kamal dari kedokteran
dengan anak sospol. Ya akur. Tak ada apa-apa. Atau hukum dengan teknik, ya
bisa juga. Atau seperti itu, Peter dari sastra dengan Jenny dari biologi.
Harmonis."


Temannya diam. Widuri pun diam. Di depan sana, di bawah sorotan lampu, Tody
masih berpidato.


***


Ada kerusuhan mahasiswa di depan papan pengumuman. Siang itu baru saja
pegawai tata usaha menempelkan pengumuman di situ. Beberapa mahasiswa
kecewa karena pengumuman itu tidak menyangkut hasil ujian. Mereka mundur
dengan murung. Ada yang menggerutu. Tetapi, Widuri tetap asyik membaca
pengumuman itu. Memang tidak menyangkut kepentingan tingkatnya. Pengumuman
itu mengenai pengiriman mahasiswa untuk ikut BIMAS ke desa-desa.


Kemudian Widuri meninggalkan tempat itu. Dadanya berdebaran. Dia
mengedarkan pandang. Di situ hanya nampak mahasiswa-mahasiswa bergerombol.
Maka dia meneruskan langkahnya. Pelan-pelan menuruni tangga yang melengkung
dari lantai tiga itu. Di lantai dua juga banyak mahasiswa bergerombol.
Widuri menajamkan pandangan. Beberapa temannya melambai. Dia membalas tak
antusias. Tak berniat berhenti. Dia terus menuruni tangga.


Tody berdiri di dekat pilar besar penyangga atap teritisan gedung
universitas. Widuri mendekati.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Pengumuman untuk BIMAS sudah keluar," katanya.


"Ya. Aku sudah tahu," kata Tody.


"Mas Tody ditempatkan di desa saya," kata Widuri.


"Eh, itu desamu?"


"Ya."


"Bagaimana keadaan di sana?"


"Tentu saja sepi."


"Kebanyakan desa ‘kan sepi."


"Tapi, di sana lebih-lebih lagi. Selama enam bulan Mas Tody harus hidup di
tengah-tengah kesepian itu."


"Ah, tak jadi soal. Aku juga berasal dari desa yang sepi."


Mata gadis itu berkedip-kedip terkena asap rokok Tody. Dan lelaki itu
melihat bibir yang kemerahan tanpa lipstik itu juga berkedip-kedip. Gadis
itu menggigit bibir.


"Andainya sekarang libur," kata gadis itu pelahan.


http://rajaebookgratis.wordpress.com



www.rajaebookgratis.com


"Lantas?" tanya Tody.


Gadis itu tersentak.


"Eh, tidak. Tak apa-apa," katanya cepat-cepat. Keduanya lalu diam. Tody
mengetuk-ngetuknya sepatunya untuk merontokkan tanah yang melekat pada
solnya.


"Enam bulan itu lama," kata Widuri lambat-lambat.

    Jika anda ingin melihat selengkapnya bisa klik disini Download untuk mendapatkan filenya. semoga bermanfaat dan terima kasih atas kunjungannya!!!